Blue Bird Keluar Dari Bayang-Bayang Hitam

In Berita Fundamental Ekonomi by Kia Pratiwi

Siapa yang tidak kenal dengan Blue Bird? Perusahaan ini telah lama berkecimpung di industri transportasi Indonesia, dengan memfokuskan diri pada bidang transportasi penumpang dan jasa pengangkutan darat antara lain: sewa bus, sewa kendaraan, dan jasa penyediaan taksi (baik regular dan eksekutif). Perusahan ini sempat merasakan kejayaan-nya ketika saat awal-awal IPO dulu pada akhir tahun 2014. Pada awal tahun 2015 harga saham Blue Bird bahkan sempat mencapai Rp 12,100/saham. Namun melawati pertengahan tahun 2015 hingga saat ini bisa dibilang bisnis BIRD sedang suffer.

Tabel. Segmen Penjualan BIRD


Sebagian besar pendapatan BIRD berasal dari bisnis Taksi, dengan hampir 85% berbanding 15% dengan bisnis non taksi. Jika dilihat secara hasil laporan keuangan tahunan, terlihat adanya penurunan sebesar 15.5% pada bisnis utama perseroan yang berasal dari core business taxi. Hal ini pula lah yang membuat pendapatan perseroan menurun dan laba bersih perseroan yang juga terimbas.

Grafik. Total Pendapatan BIRD


Grafik. Laba Bersih BIRD


Laba bersih yang tergambar pada grafik di atas mengalami koreksi pertumbuhan sejak kuartal akhir 2015, dilanjutkan dengan performa hasil di kuartal-kuartal tahun selanjutnya. Hasil ini merupakan imbas dari merajarelanya bisnis startup baru di Indonesia khususnya pada industri transportasi melalui GOJEK, UBER dan GRAB. Masing-masing memiliki lini bisnis yang sama dengan BIRD dengan alat transportasi taksi-nya, alhasil bisnis perusahaan sangat tertekan dalam 2 tahun terakhir ini.

Tabel. Beban Kewajiban BIRD


Dengan persaingan yang sangat ketat pada bisnis utama perseroan, satu hal yang kami cermati ialah bagaimana posisi hutang perseroan dalam masa-masa sulit-nya? ternyata BIRD sangat berhati-hati dalam manajemen hutangnya, baik meminjam dan mempergunakan hutang yang telah ada, dalam grafik di atas terlihat posisi total hutang perseroan baik (jangka pendek+panjang) mengalami penurunan di tahun-tahun yang sulit artinya perseroan tidak banyak melakukan ekspansi bisnis dan justru melakukan retrenchment. Hal ini sangat jelas terlihat pada laporan kuartalan perusahaan terutama di kuartal-4 2015 hingga akhir tahun 2016. Jumlah hutang tidak melebihi total hutang di periode sebelum tahun 2015.

Channel check yang kami lakukan terlihat porsi penambahan armada di tahun 2016 yang tergambar pada laporan fixed asset BIRD memang lebih rendah dibanding dengan tahun 2015, dimana pada tahun 2016 porsi fixed asset pada akun armada dan peralatan berjumlah Rp 732 miliar jika dibandingkan dengan tahun 2015 terdapat penurunan sekitar 18%, artinya disini perusahaan seperti mengerem ekspansinya dengan cukup hati-hati.

Kami menilai saat ini persaingan di industri transportasi darat telah mereda dengan regulasi dan kebijakan tariff baru yang telah di keluarkan oleh kementrian perhubungan. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/07/02/192819426/ini.tarif.batas.atas.dan.bawah.pada.taksi.online

Perbaikan ini jelas akan berpengaruh pada hasil margin keuangan perseroan kedepannya, operating profit margin diprediksi akan bisa kembali di basis 20%-an, dan begitu pula pada basis net profit margin BIRD bisa kembali di atas 15-an%. Hal ini sudah pertanda baik bagi bisnis perseroan, jika melihat kondisi profitabilitas yang memang dibawah 5-7% dari basis normal profitabilitas perseroan secara historikal.

Cash Flow Tetap Positif


Satu hal yang kami lihat masih positif pada Blue Bird adalah arus kas operasional yang memiliki angka positif, artinya laba bersih perseroan masih mampu untuk membiayai working capital sejauh ini, dan kemudian free cash flow bisa tetap positif karena ekspansi perusahaan yang terlihat dari porsi capital expenditure terus menurun dari tahun 2014 hingga penghujung 2016 (seperti yang telah dijelaskan di atas).

Tabel. Income Statement BIRD


Memang harus diakui dalam 2 tahun terakhir ini (2014-2016) pertumbuhan pendapatan per kuartal BIRD cenderung negatif, terlihat sejak kuartal-III tahun 2015 hingga saat ini, yang mengakibatkan harga saham perseroan terus menerus menurun di titik terendahnya, hingga mencapai Rp 2,750/saham pada awal tahun 2017 yang lalu, dengan P/BV yang di tradingkan sempat di bawah 2x

Katalis perbaikan:


  • Connector.

    Peraturan Kemenhub

    Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan ketentuan tarif batas bawah dan atas operator jasa angkutan taksi berbasis online atau daring. Ketentuan tarif batas bawah wilayah I yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Bali Tarif batas bawah adalah Rp 3,500 per km. Sedangkan batas atas Rp 6 ribu per km. Untuk wilayah II yang meliputi Kalimantan, Sulawesi hingga Papua, tarif batas bawah adalah Rp 3,700 ribu dan batas atas Rp 6,500 per km. (regulasi baru ini akan sangat positif karena tentu saja akan memperbaiki margin perseroan).

  • Connector.

    Program Mudik Bersama

    Maraknya perusahaan yang mengadakan mudik bersama atau mudik gratis memberikan angin segar bagi perusahaan bus, salah satunya PT Blue Bird Tbk (BIRD). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, terdapat porsi 15% dari jasa sewa kendaraan terhadap kontribusinya dengan pendapatan total BIRD, tentu saja hal ini akan ter-refleksi di laporan keuangan perseroan kedepannya.

  • Connector.

    Bekerja Sama Dengan Gojek

    PT Go-Jek Indonesia dan PT Blue Bird Tbk mempererat kerja sama dengan meluncurkan aplikasi Go-Bluebird. permintaan semakin meningkat sejak kerja sama dengan perusahaan taksi terbuka tersebut melalui aplikasi Go-Car.

Grafik. rating chart BIRD


Secara chart rating di atas, BIRD masih membutuhkan waktu untuk benar-benar menjadi perusahaan yang layak dijadikan sebagai saham value investing, imbas dari persaingan ketat di bisnis industri angkutan darat dapat menggambarkan sebuah situasi bahwa perseroan memang kesulitan dalam melawan perusahaan-perusahaan online baru hingga perseroan diharuskan mengubah bisnis modelnya dan juga melakukan penghematan, namun hal ini sangat bagus untuk dijadikan pelajaran bagi perseroan kedepan-nya. Chart rating di atas menggambarkan perseroan butuh jalan yang panjang untuk mentransformasi sebagai perusahaan yang layak value investing, konsensus baik secara nation dan industri menunjukkan posisi BIRD masih kalah, secara profitability, finance, pertumbuhan pendapatan, dan earning quality kesemuanya masih membutuhkan perbaikan.

Valuation?


Secara valuasi, saat ini saham BIRD ditradingkan masih dibawah P/BV dalam 5 tahun terakhir-nya, dimana P/BV mean 5 years ada di level 3.33x, dengan P/BV saat ini di level 2.65x, sedangkan untuk BIRD highest PE band 5 years ada di level harga Rp 6,041/saham, dengan harga saham saat ini berada di level Rp 4,810 maka masih ada peluang naik sebesar +25.5% untuk saham BIRD.  Kenaikan saham BIRD telah memasukan potensi kenaikan pendapatan karena katalis perbaikan yang telah di singgung di atas, hasil ini akan terlihat pada laporan keuangan yang akan dipublikasikan pada kuartal-II dan III nanti. Di akhir kata, saham ini belum masuk dalam saham value investing namun bagi investor yang tertarik dengan perbaikan iklim bisnis dan membeli di harga bawah maka BIRD bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan.
(Visited 13 times, 1 visits today)