Emas Bergeming, Pasar Fokus Lagi Ke Kebijakan Moneter AS Dan Eropa

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Harga emas di sesi Asia pada hari Selasa (09/05) cenderung stabil di kisaran level rendahnya tujuh pekan, sejalan dengan penurunan permintaan aset safe haven emas setelah kemenangan Emmanuel Macron dalam pemilu Presiden Prancis. Selama sesi perdagangan hari Senin kemarin, penurunan harga emas tidak tajam meski mata uang Dolar mulai merangkak naik. Hal ini terjadi karena bursa saham global melandai. Penguatan Dolar AS biasanya akan menekan harga emas, tapi pelemahan pada sektor ekuitas bisa menarik perhatian investor pada logam mulia si kuning ini.

Perhiasan-Emas-CincinSaat berita ini ditulis, harga emas spot diperdagangkan di level harga 1,228 Dolar AS dan harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Juni di Comex New York Mercantile Exchange di kisaran harga 1,228 Dolar AS per troy ons. Sementara harga emas pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk melandai menjadi Rp 580,000 dan harga buy back turun menjadi Rp 521,000.

Harga emas terpantau tetap berada di level rendah karena sentimen bisnis di Euro Zone kembali positif, didorong oleh ekspektasi kondisi ekonomi dan politik disana akan mengalami perbaikan daripada sebelumnya. Menurut Julian Phillips, Co-Founder Gold Forecaster, terpilihnya Emmanuel Macron menjadi pemimpin baru Prancis menunjukkan bahwa Uni Eropa akan bersama-sama bersatu di masa depan agar tidak runtuh. Phillips menilai, ketidakpastian yang sekarang timbul adalah apakah Presiden baru tersebut mampu melakukan tugas-tugasnya secara efektif. Mengingat risiko politik yang ditimbulkan oleh Macron dan rivalnya Marine Le Pen sudah berakhir, sebagian besar investor akan berfokus lagi pada isu kebijakan moneter di Eropa dan AS.

Di Amerika Serikat, apiknya rilis data ketenagakerjaan seperti NFP dan tingkat pengangguran menyebabkan peluang Fed rate hike bulan Juni meningkat tajam. Meski demikian, Presiden Fed St Louis, James Bullard kemarin berpendapat bahwa performa ekonomi AS yang lemah di awal tahun harusnya memperlambat rencana Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga-nya lagi. Bullard meyakini bahwa kebijakan suku bunga Fed saat ini sudah tepat. Hal ini mengingat pertumbuhan GDP selama kuartal pertama tahun 2017 ini mengecewakan karena menurun tajam menjadi 0.7 persen dari sebelumnya 2.1 persen.

Note :
Seperti yang diketahui bahwa kenaikan tingkat suku bunga AS bisa melemahkan permintaan aset yang tidak berimbal hasil bunga seperti emas. Pada saat yang sama, Dolar AS akan cenderung kuat dan membuat harga emas menjadi mahal bagi pemegang mata uang asing lain.
(Visited 12 times, 1 visits today)