Emas Merosot, Dibayangi Optimisme Pasar Tentang Fed Rate Hike Juni

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Emas lageOptimisme pelaku pasar terkait dengan kenaikan tingkat suku bunga oleh the Fed pada bulan Juni menyebabkan harga emas di sesi Asia pada hari Jumat (05/05) ini ambruk menuju ke level terendah tujuh pekan. Harga emas siap mengakhiri pekan ini dengan penurunan sebesar tiga persen, pelemahan harga terbesar sejak bulan November tahun lalu. Menurut Nico Pantelis, Kepala Riset di Secular Investor, apabila harga emas menurun ke level USD1,200 atau di bawah level ini, maka kemungkinan besar harga emas akan cenderung bearish dalam jangka pendek. Pantelis berpendapat, harga si kuning ini dapat naik lagi jika pasar ekuitas global secara tiba-tiba menurun.

Saat berita ini ditulis, harga emas spot diperdagangkan di kisaran level harga 1,228 Dolar AS dan harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Juni ambruk menjadi di kisaran harga 1,228 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga emas batangan pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk ikut melemah dan diperdagangkan di kisaran harga Rp 578,000 dari sebelumnya di level Rp 580,000.

Terlepas dari peluang tinggi Fed rate hike bulan Juni, anjloknya harga emas juga dipicu oleh adanya permintaan logam mulia emas sebagai aset investasi yang menyusut secara signifikan. Berdasarkan laporan World Gold Council (WGC) yang dirilis hari Kamis kemarin, total permintaan emas secara global untuk investasi mengalami penurunan sebesar 34 persen dari periode yang sama pada tahun 2016 lalu. Permintaan logam mulia emas merosot dari sebelumnya 607 metrik ton menjadi 399 metrik ton selama kuartal pertama tahun 2017. Namun, data WGC menunjukkan, permintaan di kuartal tahun ini masih lebih lebih tinggi dibandingkan dengan permintaan tahun 2015.

Meski permintaan emas untuk investasi menurun, WGC melaporkan bahwa investasi emas fisik seperti emas batangan dan koin pada kuartal I tahun ini naik tipis sebesar sembilan persen menjadi 290 metrik ton. Kenaikan data tersebut utamanya didorong oleh permintaan emas fisik dari China yang meningkat sebesar 30 persen. Dalam laporannya, WGC juga menyatakan, terjadinya pelemahan pada mata uang, kecemasan pasar tentang kondisi pasar properti, dan naiknya permintaan emas saat perayaan tahun baru China merupakan faktor pendukung pasar emas. Sedangkan Alistair Hewitt, Kepala Riset Pasar di WGC mengatakan, “Permintaan emas dari bank-bank sentral selama kuartal I tahun 2017 kurang bagus”. Permintaan bank-bank sentral global untuk emas terpantau menyusut sebesar 27 persen menjadi 76 metrik ton saja.

Informasi
Sementara itu, para investor kini tengah menantikan data NFP AS yang dijadwalkan akan dirilis nanti malam. Sebagian besar pelaku pasar memprediksi, data dari pasar ketenagakerjaan ini akan bertambah sebanyak 185,000 dari sebelumnya yang hanya naik sebesar 98,000.
(Visited 30 times, 1 visits today)