Harga Emas Susut, Pasar Fokus Ke ECB Dan Pemilu Inggris

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Testimoni tertulis mantan Direktur FBI James Comey yang tidak mengejutkan pasar dan penguatan mata uang Dolar AS membuat harga emas sedikit melemah. Harga emas di sesi Asia pada hari Kamis (08/06) ini terpantau menurun dari level tertingginya tujuh bulan. Namun, penurunan harga si kuning tersebut dibatasi oleh fokus para investor ke pengumuman suku bunga ECB serta hasil pemilu Inggris.

Pada saat berita ini diturunkan, harga emas spot diperdagangkan turun sebesar 0.10 persen ke level harga 1,285 Dolar AS dan harga emas berjangka di Comex New York Mercantile Exchange mengalami penurunan sebesar 0.39 persen menjadi ke kisaran harga 1,288 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga emas batangan pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia di level Rp 596,000 dan harga buy back Rp 544,000.

Harga emas telah menanjak sebesar satu persen ke level tinggi tujuh bulan pada sesi perdagangan hari Selasa kemarin seiring dengan adanya ketidakjelasan pada pasar finansial dan politik. Tren naik harga emas masih cukup kuat mengigat harga emas saat ini terpantau masih diperdagangkan di dekat level pentingnya. “Harga emas bisa jadi melanjutkan kenaikan dan berada di kisaran level 1,295 Dolar AS” ungkap Executive Vice President Dillon Gage Metals, Walter Pehowich. Menurut Pehowich, apabila emas mampu melewati level harga tersebut, maka harga si kuning mampu melonjak ke level harga 1,300 Dolar AS.

Saat ini sebagian besar investor terus mengamati kurs Dolar dan menunggu perkembangan serta potensi pergerakan harga pasar pada pekan ini. Pada hari Kamis malam nanti, pasar akan memberikan perhatian mereka pada pengumuman kebijakan moneter ECB dan mencermati jalannya dan hasil pemilu Inggris. Di samping itu, trader tengah menantikan  hasil rapat FOMC pekan depan.

Catatan :
Edward Meir, analis di INTL FCStone menilai,”Ada kemungkinan harga emas akan dihadapkan dengan pelemahan signifikan sejalan dengan tingginya prospek kenaikan tingkat suku bunga oleh Federal Reserve”. Meski demikian, Edward Meir berpendapat, sebaliknya harga logam mulia kuning tersebut bisa terangkat apabila pernyataan pejabat bank sentral AS cenderung dovish.
(Visited 16 times, 1 visits today)