Indikator RSI Versus Stochastics : Mana Yang Lebih Unggul?

In Panduan Menggunakan Indikator by Kia Pratiwi

Relative Strength Index (RSI) dan stochastics adalah 2 jenis indikator oscillator yang populer. Pada umumnya digunakan untuk mengidentifikasi keadaan jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold), dan keadaan divergensi pergerakan harga. Namun demikian kedua indikator tersebut dibuat dengan dasar filosofi dan formula yang berbeda sehingga interpretasi dan applikasinya perlu disesuaikan dengan keadaan pasar.

RSI


RSI dibuat untuk mengukur kecepatan perubahan harga. Dalam model pengukuran ini pergerakan harga diasumsikan elastis, dalam arti bisa bergerak sejauh jarak tertentu dari harga sekarang sebelum berbalik arah atau retrace. Kenaikan harga yang lebih cepat akan mengakibatkan keadaan jenuh beli atau overbought, dan penurunan harga yang lebih cepat akan mengakibatkan keadaan jenuh jual atau oversold. Nilai RSI berbanding proposional dengan kecepatan gerak dan besaran harga sehingga bisa digunakan untuk mengidentifikasi keadaan overbought dan oversold.

Formula RSI adalah : RSI = 100 – ( 100 / (1+U/D) ), dimana U adalah nilai rata-rata perubahan harga yang positif  atau naik dalam periode waktu tertentu, dan D adalah nilai rata-rata perubahan harga yang negatif atau turun dalam periode tertentu. Makin sering terjadi kenaikan harga dalam periode waktu tersebut akan makin tinggi nilai RSI. Dengan hanya berubah jika terjadi perubahan besaran harga (naik atau turun), maka RSI akan menyaring sinyal-sinyal yang tidak mengandung informasi perubahan harga, dan dengan periode waktu pengukuran yang makin kecil maka RSI akan semakin cepat berubah (lebih sensitif).

Range nilai RSI adalah 0 hingga 100, dan pada umumnya RSI diatas 70 diasumsikan kemungkinan keadaan overbought dan dibawah 30 diasumsikan kemungkinan oversold. Tetapi bukan berarti harga akan berbalik arah jika nilai RSI berada pada 2 nilai ekstrem tersebut, karena dalam kenyataannya elastisitas pergerakan harga tidak bisa diukur dengan pasti. Interpretasi secara umum bila RSI berada diantara 50 hingga 70 harga akan bergerak dengan trend positif (uptrend) dan jika berada diantara 30 hingga 50 harga akan bergerak dengan trend negatif (downtrend).

Stochastics


Indikator stochastics lebih mengukur momentum dimana pergerakan harga telah mencapai keadaan overbought atau oversold sehingga bisa mengidentifikasi kemungkinan retrace atau reversal. Formula indikator stochastics didasarkan pada pentupan harga sekarang dibandingkan dengan range harga dalam periode waktu tertentu. Filosofi dasar indikator ini adalah jika trend atau harga sedang naik maka harga akan cenderung ditutup dekat dengan harga tertinggi dalam range, dan jika trend atau harga sedang turun maka akan cenderung ditutup dekat dengan harga terendah dalam range.

Sama dengan RSI, range nilai stochastics adalah 0 hingga 100, dan pada umumnya nilai stochastics diatas 80 diasumsikan keadaan overbought dengan kemungkinan harga akan retrace (bergerak turun), sementara dibawah 20 diasumsikan keadaan oversold dengan kemungkinan akan kembali bergerak naik. Hal ini bukan berarti harga akan berbalik arah jika nilai stochastics berada pada 2 nilai ekstrem tersebut. Ketika trend sedang kuat nilai stochastics akan tetap berada pada area ekstremnya (overbought atau oversold) karena harga akan selalu ditutup dekat dengan level tertingginya (untuk uptrend), atau level terendahnya (untuk downtrend).

Perbedaan Aplikasi RSI Dan Stochastics
Dari penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa RSI akan lebih akurat jika diterapkan pada kondisi pasar yang sedang trending dibandingkan stochastics, sedang stochastics akan lebih akurat untuk kondisi pasar yang sideways atau ranging.

Contoh applikasi kedua indikator tersebut pada chart daily EUR/USD dan AUD/USD :

Pada chart daily EUR/USD, untuk periode waktu ketika harga bergerak downtrend, indikator RSI (14) berada pada level antara 30 hingga 50 yang menunjukkan kondisi trend negatif (bearish) dan tidak pernah menyentuh level 50 (netral), sementara indikator stochastics (14,3,3) menunjukkan kondisi oversold (dibawah level 20) hingga kondisi bullish (diatas level 50) yang menyebabkan kesalahan interpretasi, atau menimbulkan false signal.

Sementara untuk kondisi sideways pada chart daily AUD/USD diatas, indikator RSI (14) berosilasi di sekitar level 50.0 dan tidak menunjukkan keadaan overbought atau oversold, sementara indikator stochastics (14,3,3) dengan jelas menunjukkan 2 kali keadaan oversold dan 2 kali overbought. RSI baru berada pada area oversold ketika harga telah turun beberapa hari kemudian, sedang stochastics telah memberikan sinyal sell ketika kurva %K memotong %D saat harga mulai turun dengan tajam.

Contoh di atas menunjukkan indikator RSI lebih reliable untuk kondisi trending, sementara stochastics lebih akurat untuk kondisi pasar yang sideways (ranging). RSI sering digunakan pada time frame rendah terutama trader harian untuk mengetahui kecepatan perubahan harga dan kecenderungan trend dalam jangka pendek, sementara stochastics umumnya digunakan oleh swing trader untuk mengidentifikasi momentum pada jangka menengah panjang.

(Visited 25 times, 1 visits today)