Kebiasaan Buruk Yang Bisa Buat Anda Gagal Kaya

In Tips Trading by Kia Pratiwi

Uang memang bukan segalanya, tetapi kalau tak punya banyak uang pun hidup bakal kesulitan. Banyak orang mengetahui itu dan karenanya ingin jadi kaya, tetapi tak sedikit diantaranya yang tanpa disadari melakukan kebiasaan – kebiasaan buruk yang bisa membuat diri selamanya gagal kaya. Kebiasaan – kebiasaan buruk apa saja?

Berikut kebiasaan buruk Yang Harus dihindari :
  • Connector.

    1. Mengambil terlalu banyak kredit dan tak tahu bagaimana riwayat kredit diri sendiri.

    Mendapatkan kredit itu mudah, sedangkan melunasinya akan lebih susah. Ini terutama berlaku bagi orang-orang yang memandang pinjaman bank sebagai solusi, tanpa mempertimbangkan bagaimana kelak akan menyelesaikannya. Mulai dari kredit motor, KPR, kartu kredit, saat ini setiap individu bisa memiliki antara satu hingga tiga atau lebih kredit dalam satu waktu. Namun, sudahkah Anda menghitung berapa total pokok pinjaman plus bunga dan menjadwalkan pembayarannya?Lebih parah lagi ketika mereka yang punya kebiasaan buruk ini luput memeriksa riwayat kreditnya. Kemudian ketika suatu saat membutuhkan pinjaman darurat malah ditolak karena riwayat kreditnya buruk. Padahal, memeriksa riwayat kredit relatif mudah, cukup dengan mengisi formulir online dan mengambil hasilnya di kantor Bank Indonesia terdekat.

  • Connector.

    2. Tidak merancang target keuangan.

    Kebanyakan orang mengatur pengeluaran sejajar dengan pemasukan, dalam arti berapa gaji bulanan, sebesar itu pulalah pengeluaran bulanan (atau malah lebih besar lagi dengan didanai utang). Kalaupun berhasil menyisihkan sebagian uang di awal bulan, belakangan akan terpakai juga untuk belanja. Demikian seterusnya dari waktu ke waktu.Kalau seperti itu, kapan akan kaya? Bagi mereka yang melakukan kebiasaan buruk ini, maka tak peduli berapa kali gaji naik, tentu takkan cukup karena kebutuhan plus keinginan terus menerus naik bersama dengan pendapatan.Buatlah target keuangan tertentu. Misalnya, Anda ingin tahun 2025 berangkat haji, atau 15 tahun lagi menyekolahkan anak ke luar negeri, atau 20 tahun lagi punya blok ruko sehingga hidup cukup ongkang-ongkang kaki, dan lain sebagainya. Dengan patokan target tersebut, selanjutnya buatlah “strategi”.

  • Connector.

    3. Tidak membuat rencana anggaran dan investasi.

    Karena tak punya target, maka wajar pula bila kebanyakan orang tak punya rancangan anggaran pemasukan dan pengeluaran maupun rencana investasi, terutama mereka yang masih muda. Kebiasaan buruk ini tak hanya dilakukan oleh orang Indonesia saja. Menurut suatu penelitian, 19% dari kalangan muda Amerika (millenial) tak punya anggaran sama sekali, sedangkan 26% lagi hanya membuat anggaran untuk membayar tagihan rutin, lalu sisanya dihabiskan sesuka hati. Ini termasuk kebiasaan buruk yang perlu diubah.Buatlah target keuangan. Lalu setelah memasang target, tentukanlah rancangan anggaran dan investasi Anda. Berapa persen dari pendapatan bulanan akan dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari, berapa persen untuk membayar cicilan kredit, lalu sisihkan juga untuk cadangan situasi darurat, pensiun, dan tabungan/investasi. Jangan lupa anggarkan juga beberapa persen untuk amal.

  • Connector.

    4. Nyaman dengan status quo.

    Dibanding orang yang tak punya target dan rencana keuangan, boleh jadi lebih banyak lagi mereka yang merasa nyaman dengan kondisi keuangannya saat ini…tanpa menyadari bahwa suatu ketika segalanya bisa berubah drastis.Seorang istri menerima saja kiriman bulanan dari suaminya tanpa berupaya menabung ataupun berinvestasi, lalu panik ketika sang suami tiba-tiba meninggal sedangkan anak-anak masih kecil, simpanan minim, dan ia tak punya pengalaman kerja maupun skill berharga. Seorang karyawan cinta mati dan loyal pada tempat kerjanya, lalu tiba-tiba perusahaan gulung tikar atau melakukan efisiensi hingga ia kena PHK.Kejadian-kejadian semacam itu tentu tak asing di telinga kita. Padahal, sejak kecil kita sudah sering mendengar pepatah “sedia payung sebelum hujan”, tetapi pada akhirnya nasehat itu hanya sekedar kata-kata.

  • Connector.

    5. Tak berinvestasi pada diri sendiri.

    Kalau bicara tentang berinvestasi, lalu investasi apa yang terbaik? Yang pertama dan terutama adalah berinvestasi pada diri sendiri. Anda lah yang akan berjuang mencari uang, dan meskipun seandainya kelak Anda bisa membuat uang bekerja sembari diri ongkang-ongkang kaki, tetap saja Anda harus cukup sehat untuk membuat keputusan-keputusan strategis.Jadi, berinvestasilah pada diri Anda sendiri. Jagalah kesehatan, minum suplemen jika dibutuhkan, tingkatkan terus wawasan dan skill yang dimiliki. Jangan terlena oleh kenyamanan status quo hingga lupa mengembangkan diri; ini termasuk kebiasaan buruk. Sebagai karyawan, nilai diri Anda akan makin tinggi sejalan dengan semakin sehat, semakin tinggi skill, dan semakin banyak pengalaman di tangan. Sedangkan sebagai enterpreneur atau investor, kesehatan, skill, dan pengalaman itu bisa membuat Anda mampu mengambil keputusan-keputusan yang lebih berkualitas

  • Connector.

    6. "Menyimpan semua telur dalam satu keranjang"

    Meskipun berinvestasi pada diri sendiri itu penting, tetapi tak kalah pentingnya juga untuk berinvestasi pada beragam aset. Sekali lagi: jangan mudah puas pada status quo, meskipun kini gaji bulanan Anda sudah tinggi.Akan lebih aman dan menguntungkan apabila Anda mampu merancang beberapa sumber pendapatan, sehingga saat satu sandaran goyah atau tumbang, masih ada yang lainnya. Katakanlah Anda seorang karyawan, maka dampak PHK mendadak bisa ditanggulangi lebih baik jika masih punya simpanan dan memiliki sumber pendapatan lain seperti dari properti yang disewakan, toko atau rumah makan, investasi saham, atau trading forex.

  • Connector.

    7. Membiarkan dana mangkrak di rekening tabungan.

    Pada dasarnya, kebiasaan buruk nomor tujuh ini mirip dengan nomor enam. Mayoritas orang Indonesia punya rekening tabungan, tetapi hanya segelintir yang berinvestasi. Bagi Anda, ini sebenarnya peluang. Jika Anda ingin kaya, atau setidaknya memiliki lebih banyak uang, hindari kebiasaan buruk ini.Begitu Anda sudah berhasil mengumpulkan tabungan yang lumayan di bank, jangan biarkan hanya diam begitu saja dalam rekening. Buat uang itu bekerja untuk Anda dengan berinvestasi dalam aset-aset berharga. Ketahuilah bahwa tabungan di bank jika didiamkan maka lama kelamaan akan menyusut bukannya bertambah, karena potongan administrasi bisa sama dengan atau malah lebih besar dibanding bunga yang diberikan bank.Pilihan investasi masa kini sangat beragam. Anda bisa memilih investasi sektor riil, mulai dari ikut franchise (waralaba), membuka restoran, toko, bengkel, kos-kosan, atau bahkan sekedar membuat barang kerajinan tangan atau dropship untuk dijual lewat sosial media. Dapat juga memilih investasi sektor finansial, baik itu dengan membeli saham, reksadana, atau belajar trading forex. Entah pilihan mana yang Anda ambil, pokok pentingnya adalah jangan sampai membiarkan banyak uang terbengkalai.

Langkah pertama dalam menjadi kaya adalah menghasilkan lebih banyak uang. Meski ada semboyan “hemat pangkal kaya”, tetapi faktanya di dunia ini sekedar hemat saja tidak cukup. Anda perlu memperbaiki kebiasaan – kebiasaan buruk seperti yang telah disebutkan di atas, jika Anda tak ingin gagal kaya. Semua itu nantinya akan menjadi landasan bagi masa depan kondisi finansial yang lebih baik bagi Anda dan keluarga.
(Visited 19 times, 1 visits today)