Kontroversi Trump Belum Berakhir, Harga Emas Melambung Lagi

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Naiknya kerisauan sebagian besar pelaku pasar tentang gejolak atas tindakan Presiden AS, Donald Trump membuat kurs Dolar dan bursa saham AS melemah signifikan. Kondisi ini kemudian menyebabkan harga emas di sesi Asia pada hari Rabu (17/05) melonjak. Saat berita ini diturunkan, harga emas spot diperdagangkan meningkat sebesar 0.54 persen ke level harga 1,243 Dolar AS dan harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Juni mengalami kenaikan sebesar 0.57 persen ke level harga 1,243 Dolar AS per troy ons. Sementara itu, harga emas batangan pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk melonjak menjadi Rp 584,000 dari sebelumnya Rp 580,000.

Setelah beberapa waktu lalu Donald Trump melakukan pemecatan terhadap Direktur FBI, James Comey secara tiba-tiba, kali ini Trump dikabarkan membocorkan informasi rahasia terkait terorisme kepada petinggi Rusia. Pertukaran informasi ini berpotensi membahayakan kesepakatan pembagian informasi intelijen penting dalam hal operasi memerangi ISIS. “Kontroversi Trump yang tak kunjung berakhir telah menyokong harga emas,” kata Chintan Karnani, Kepala Analis di Insignia Consultants. Sedangkan menurut Tomoichiro Kubota, seorang analis di Matsui Securities, Tokyo, “Ada kemungkinan kebijakan ekonomi Donald Trump akan tertunda karena isu politik dan bisa jadi Dolar mengalami tekanan jual”. Kubota menilai, saat ini ada kecenderungan dari para investor yang memilih untuk menunggu dan mengamati sejauh mana isu ini akan berlanjut.

Selain karena tindakan Donald Trump, harga emas juga terangkat oleh pelemahan Dolar karena rilis data Housing Starts dan Building Permits AS yang jauh di bawah ekspektasi pasar.”Greenback sedang berada di bawah tekanan akibat adanya pelemahan data ekonomi AS dan keresahan pelaku pasar tentang Donald Trump,” ujar Richard Perry, analis pasar di Hantec Markets. Rilis Building Permits bulan April memerah di bawah ekspektasi yakni ke 1.229 dari sebelumnya 1.260 juta. Sementara rilis data Housing Starts bulan April turun tajam dari 1.203 menjadi 1.172 juta.

Note :
Rilis data ekonomi penting dari negara Paman Sam yang menunjukkan penurunan akan menambah kekhawatiran investor bahwa kondisi dan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut belum solid. Di samping itu, pelemahan data ekonomi juga menurunkan peluang Fed rate hike bulan Juni depan. Berdasarkan Fed Watch Tool milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga AS bulan Juni turun menjadi 69 persen dari sebelumnya 80 persen. Hal ini membuat minat investor terhadap logam mulia si kuning cenderung naik.
(Visited 8 times, 1 visits today)