Laju Produksi Minyak AS Masih Bayangi Kenaikan Harga

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

minyakHarga minyak terpantau menurun tipis di sesi perdagangan Asia hari Senin ini (3/4), setelah sempat mencapai rekor tinggi dua minggu pekan lalu akibat protes bersenjata di Libya. Kabar kenaikan jumlah sumur pengeboran di Amerika Serikat (rigs count) yang dirilis pada malam Sabtu serta beberapa kabar lain, menekan harga.

Saat berita dirilis, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 9 sen dari harga settlement sebelumnya ke angka $50.51 per barel. Sedangkan harga minyak berjangka Brent selip 14 sen ke angka $53.39 per barel. Akhir pekan lalu, Irak mengungkapkan rencananya untuk meningkatkan kapasitas output hingga 5 juta barep ber hari (bph) sebelum akhir tahun. Di saat yang sama, Menteri Perminyakan Jabar Al-Luaibi dan Sekjen OPEC Mohammed Barkindo menegaskan, Irak tetap akan memenuhi kesepakatan pemangkasan output yang telah disetujuinya.

Di sisi lain, Rusia yang termasuk salah satu penandatangan kesepakatan yang sama, justru menunjukkan indikasi akan menaikkan ekspor. Dilaporkan, pengiriman minyak oleh Transneft (BUMN pengelola monopoli saluran pipa minyak Rusia) meningkat ke 2.944 juta bph di bulan Maret, dari 2.819 juta bph di bulan Februari.

Informasi
Kedua kabar tersebut memunculkan keraguan kembali pada niat negara-negara OPEC dan sekutunya untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan output.

Sementara itu, pasar bereaksi pada laporan Baker Hughes tentang aktivitas pengeboran di AS. Jumlah sumur pengeboran minyak aktif meningkat sebanyak 10 ke total kumulatif 662 sepanjang pekan lalu. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlahnya hanya 362. Data tersebut melengkapi satu kuartal penuh laju kenaikan rigs count terkuat sejak pertengahan 2011. Tanda-tanda kenaikan produksi di negeri Paman Sam ini telah diketahui dapat mengancam upaya OPEC dan negara-negara produsen lainnya untuk mengangkat harga minyak dari keterpurukannya sejak pertengahan 2014.

Note :
Selain itu, penguatan indeks Dolar AS (DXY) juga turut membebani harga minyak. Pasalnya, komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS ini menjadi lebih mahal bagi negara-negara konsumen pengguna mata uang berbeda. Dolar menguat kencang setelah dirilisnya laporan GDP Amerika Serikat yang tampil prima.
(Visited 16 times, 1 visits today)