Memetik Pelajaran Dari Kegagalan John Meriwether

In Kisah Sukses Dari Trading by Reza Pahlevi

Kali ini kita akan mengulas tentang kisah John Meriwether. Namun uniknya, kita tidak akan membahas kesuksesannya ataupun tips-tips investasi yang bisa diambil dari caranya meraih keberhasilan. Di sini, kita akan mengambil hikmah dari kegagalan John Meriwether dan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Mengapa demikian? Belajar dari kisah inspiratif nyatanya tak selalu bersumber dari cerita-cerita tokoh sukses saja. Kadang kala, kita bisa belajar dari pengalaman gagal agar bisa menghindari kesalahan utamanya sedari awal. Lalu bagaimana dengan kisah John Meriwether ini? Mari sama-sama kita simak ulasannya di bawah ini.

John Meriwether1John Meriwether lahir pada tanggal 10 Agustus 1947 di Chicago. Ia merupakan penemu konsep “Fixed Income Arbitrage” atau pendapatan tetap dari ber-trading dengan dua buah posisi berlawanan (cross hedge), yang bertujuan mendapatkan bunga premium positif. Meriwether lulus dari Northwestern University sebagai Sarjana Ekonomi) dan mendapatkan gelar MBA dari University of Chicago’s Graduate School of Business. Ketika masih kuliah di University of Chicago, John Meriwether bersahabat dengan Jon Corzine yang sekarang menjabat sebagai eksekutif di Goldman Sachs.

Bersama-sama dengan Myron S. Scoles dan Robert C. Merton yang berbagi Hadial Nobel pada tahun 1997, John Meriwether membentuk Long-Term Capital Management (LTCM) pada tahun 1994. Kala itu, ia sudah berstatus sebagai mantan wakil pemimpin dan kepala dari bond trading Solomon Brothers. Perlu diketahui, LTCM sendiri merupakan sebuah lembaga hedge fund yang mengelola dana dari investor. Lembaga ini didirikan oleh John Meriwether, yang saat itu terkenal karena selalu merekrut akademisi (profesor, PhD di bidang finance, komputer, atau physics) dan memiliki sifat eksklusif atas grup bentukannya untuk bergabung dalam bisnis hedge fund.

John Meriwether traderAwalnya, LTCM memperoleh kesuksesan yang sangat besar dengan memperoleh pendapatan sebesar 40 persen (setelah fees) pada tahun pertama. Tetapi pada tahun 1998 ia kehilangan USD4.6 miliar dalam waktu kurang dari empat bulan mengikuti krisis finansial Rusia dan menjadi contoh mencolok dari potensi risiko dalam industry hedge fund. LTCM pun ditutup pada tahun 2000.

Kisah kebangkrutan bisnis John Meriwether bermula dari cara investasinya yang sangat spekulatif dan terkesan “sembrono”. Merasa punya kemampuan, Meriwether meminjam begitu banyak uang tanpa terkendali untuk memperoleh keuntungan besar. Dengan modal USD4.8 milyar, ia menempatkan USD160 juta dalam investasi saham dan obligasi, yang ditambah dengan derivatif investasi lainnya senilai USD1 trilyun. Sesuatu yang tidak wajar dan sangat spekulatif. Ketika di masa krisis, perusahaannya menjadi hancur.

Dari ribuan kisah kebangkrutan suatu perusahaan, LTCM menjadi salah satu cerita paling unik karena orang-orang yang berada di baliknya (John Meriwether, Myron Scholes, dan Robert C. Merton), memiliki prinsip finance theory yang melandasi operasinya. Keterlibatan LTCM dalam aksi spekulasi dan transaksi-transaksi derivatif mengakibatkan kerugian yang dideritanya mencapai hampir USD1.3 trilyun. Bahkan kisah tersebut diungkap dalam sebuah buku berjudul “When Genius Failed: The Rise and Fall of Long-Term Capital Management” yang menjelaskan secara detail mengenai bangkrutnya Long-Term Capital Management.

Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah John Meriwether sudah putus asa dan bangkrut? Oh, tidak. Setelah semua kegagalan itu, Meriwether menjalankan perusahaan JWM Partners LLC, di Greenwich, Connecticut. Bisnis baru tersebut merupakan unit usaha berdasar Hedge yang mengelola dana sebesar USD400 juta dollar di tahun 1999. John Meriwether kemudian memanen kesuksesan lebih jauh ketika pada tahun 2007 lalu, dana yang dikelola sudah mencapai USD3 milyar. Per tanggal 19 Maret 2008, hasil pengelolaan dana dari JWM Partners yang diberikan ke nasabahnya mencapai 24 persen setiap bulan.

Namun kemudian, John Meriwether kembali menemui batu sandungan di masa krisis finansial 2007-2009. Firmanya menderita loss besar sejumlah 44 persen, hingga akhirnya ditutup pada 8 Juni 2009. Pantang menyerah, ia lalu mendirikan lagi perusahaan finansial, kali ini dengan brand JM Advisors dan masih berbasis di Greenwich, Connecticut. John Meriwether seolah belum kapok terkena dampak krisis besar yang telah menghancurkan 2 bisnisnya. Ia kembali menggunakan strategi investasi yang sama dengan ketika ia mengelola LTCM dan JWM, yakni “relative value arbitrage” ber-leverage tinggi. Alhasil, Meriwether kesulitan mengulang “sukses luar biasa” yang pernah dicapainya bersama perusahaan-perusahaan sebelumnya. Pada Maret 2011, JM Advisors hanya mengembangkan dana senilai USD28.85 juta.

Atas kemunduran prestasinya dan kegagalannya yang selalu berulang terutama di masa krisis, Bloomberg mengungkap bahwa “John Meriwether kini hanyalah sekedar manajer hedge fund biasa..”. Implikasinya, sosok tersebut tak lagi patut disejajarkan dengan investor-investor sukes pendiri firma raksasa semacam Warren Buffett dan George Soros.

Apa yang bisa dipelajari dari kegagalan John Meriwether? Melihat kecerobohannya di masa-masa awal, jelas tindakan spekulatif dan terlalu berani meminjam dana besar menjadi kesalahan paling penting untuk dihindari. Selain itu, Meriwether konsisten pada strategi dengan cara yang salah. Setia boleh-boleh saja, tapi kalau kegigihan itu ditujukan pada strategi yang terlalu berisiko, bukankah hal tersebut malah hanya akan membawa kembali ke jurang kehancuran?

Catatan ;
Oleh karena itu, sebagai trader kita wajib bersikap hati-hati terhadap risiko dan tidak hanya mementingkan profit besar. Pelajari apa yang menyebabkan kegagalan sebelumnya, akui kesalahan tersebut, dan terapkan usaha untuk memperbaikinya. Jangan bersikeras pada suatu cara jika metode tersebut terbukti merugikan. Paling tidak, kisah kebangkrutan John Meriwether bisa menjadi contoh nyata dampak negatif dari tindakan-tindakan serupa.
(Visited 39 times, 1 visits today)