Minat Orang Indonesia Pakai Aplikasi Lokal Rendah

In Berita Terhangat dan Terkini by Reza Pahlevi

Sepanjang kuartal pertama 2017, ada lebih dari 10 juta pengguna internet mobile baru di Indonesia. Berbarengan dengan pertumbuhan yang masif itu, konsumsi aplikasi mobile pun meningkat. Meski demikian, dari 100 aplikasi mobile terpopuler di Tanah Air, hanya 12 persen yang merupakan aplikasi lokal karya anak bangsa. Begitu menurut laporan teranyar dari perusahaan solusi telekomunikasi, Ericsson.

Tak dijabarkan oleh Ericsson aplikasi lokal apa saja yang termasuk dalam 12 persen tersebut. Namun, kategorinya terbagi di sektor dictionary, banking, mobile service, news, shopping, transportasi, dan travel, sebagaimana tertera dalam pemaparan Ericsson Mobility Report

President sekaligus Head of Network Product Unit Ericsson untuk Indonesia dan Timor Leste, Ronni Nurmal mengakui bahwa untuk mencapai 100 persen aplikasi lokal di Tanah Air adalah hal sulit. Pasalnya, aplikasi asing semacam Facebook, WhatsApp, dan Instagram, sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dan mengakar. Meski demikian, bukan berarti persentase 12 persen itu tak bisa ditingkatkan. Menurut dia, masih banyak potensi aplikasi lokal yang bisa digarap.

“Pengembang aplikasi lokal harus lebih kreatif menciptakan aplikasi yang solutif atas permasalahan lokal,” kata dia. Ronni menambahkan bahwa kondisi sosial masyarakat di Indonesia paling dipahami oleh orang Indonesia. Misalnya saja di sektor pertanian, perikanan, pertambangan, dan pendidikan.

Note :
Lebih lanjut, selain Indonesia, negara-negara di Asia Tenggara memang cenderung belum terlalu masif dari segi pengembangan aplikasi lokal. Di Singapura, hanya 23 persen dari aplikasi populer yang merupakan aplikasi lokal. Selanjutnya secara berurutan adalah Vietnam (21 persen), Thailand (18 persen), Malaysia (13 persen), dan Philipina (10 persen).
(Visited 9 times, 1 visits today)