Mirip Instagram Stories, Apakah WhatsApp Status Juga Punya Potensi Bisnis?

In Berita Terhangat dan Terkini by Kia Pratiwi

Pada tanggal 20 Februari 2017 lalu,WhatsApp Mengumumkan pembaruan fitur status miliknya. Tampilan fitur ini mirip dengan Snapchat dan Instagram Stories. Ini adalah format yang telah diadopsi secara luas, dan kami mengadopsi itu juga,” ujar Randal Sarafa, Manajer Produk WhatsApp, seperti dikutip dari Recode. Sarafa mengklaim, produk besutannya memiliki daya tarik yang membuatnya unik bila disandingkan dengan pesaingnya.

Kritikan Buat WhatsApp
Sayangnya, sejak kali pertama dirilis, WhatsApp status mendapat banyak kritikan dari para penggunanya. Umumnya, kritik ini menyebut WhatsApp hanya meniru para pendahulunya. Bahkan, mereka mengatakan fitur WhatsApp ini tidak lebih baik dari Instagram dan Snapchat. Benarkah demikian?
WhatsApp Unggul dengan video berdurasi 45 detik

Pertama, WhatsApp Status memiliki durasi selama 45 detik, sementara Instagram Stories hanya berdurasi sekitar dua puluh detik. Dengan kelebihan tersebut, para pengguna WhatsApp dapat memiliki konten yang lebih kaya. Meski demikian, Instagram memiliki fitur Live yang memungkinkan kamu untuk melakukan siaran selama satu jam. Fitur ini juga disertai dengan chat live.

Fitur Boomerang lebih mudah digunakan

Selain durasi video yang lebih lama, WhatsApp juga memungkinkan penggunanya untuk  mengunggah gambar dengan format GIF. Tapi, Instagram telah lebih dulu membuat terobosan dengan fitur Boomerang. Dari sisi penggunaan, fitur Boomerang ini dapat mengambil langsung foto burst dan dibagikan pada saat yang sama di satu aplikasi. Sementara itu, WhatsApp mengharuskan kamu menggunakan aplikasi penunjang, seperti GIF Studio, StickDraw, dan lain sebagainya untuk membuat gambar berformat GIF sebelum akhirnya membagikan gambar.

WhatsApp dilengkapi dengan enskripsi end-to-end

Saat ini Instagram hanya mengandalkan kebijakan privasi untuk melindungi pengguna. Keamanan yang ditawarkan hanya sebatas siapa yang dapat mengirim pesan atau komentar, dan kepada siapa Stories dapat dilihat. Lain halnya dengan WhatsApp yang telah menerapkan enskripsi ent-to-end pada aplikasinya. Sistem keamanan ini menjamin tidak adanya orang lain yang bisa melihat setiap pesan, panggilan, gambar, video ataupun berbagai macam bentuk berkas, kecuali si penerima. Pembaruan di Status pun hanya dapat dilihat oleh orang yang memiliki nomor kontak pribadi si pengguna. Meski bukanlah hal baru, tampilan fitur WhatsApp Status yang mirip dengan Stories ini sejatinya menggantikan gaya lama dari pembaruan status pada aplikasi tersebut. Pembaruan status yang tadinya hanya berupa teks, kini hadir dengan lebih ekspresif dari sebelumnya.

WhatsApp Stories lahan bisnis baru?

Penambahan fitur ini sebenarnya bisa membuka peluang bisnis baru bagi WhatsApp, seperti halnya Instagram yang telah memonetisasi fitur Stories. Tapi, CEO WhatsApp Jan Koum dan sang Co-Founder Brian Acton bersikeras menolak adanya iklan di aplikasinya sejak pertama kali WhatsApp muncul. Namun, empat tahun berselang, WhatsApp seperti menelan ludahnya sendiri. WhatsApp menyatakan  akan membantu Facebook untuk beriklan dengan menggunakan data pengguna WhatsApp. Sebelumnya di tahun 2014, Facebook telah membeli WhatsApp senilai US$19 miliar (sektar Rp253 triliun).

Facebook akan memberikan saran pertemanan yang lebih sesuai, serta menampilkan iklan yang lebih tepat untuk kamu. Sebagai contoh, kamu akan melihat iklan dari perusahaan yang kamu kenal (dari komunikasi di WhatsApp), dan tidak lagi melihat iklan dari perusahaan yang tidak kamu ketahui,” ungkap WhatsApp dalam pengumuman mereka. Kemudian, tepat pada 20 Februari 2017 lalu setelah merilis fitur Status pada aplikasinya, Sarafa kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menambahkan iklan di WhatsApp, dan mereka tidak memiliki rencana untuk melakukan hal tersebut. Anehnya, seperti yang ditulis pada business Insider, seminggu sebelum dirilisnya fitur Status, WhatsApp merekrut Matthew Idema menjadi COO pertamanya. Sebelumnya Idema menjabat sebagai Eksekutif Senior Facebook bidang Pemasaran dan Periklanan. Bahkan, belum lama ini WhatsApp dikabarkan tengah menguji coba fitur pesan khusus untuk bisnis. Hal ini menjadi pertanda bawah WhatsApp serius dalam mengumpulkan pundi-pundi uang. Bila memang benar WhatsApp akan melakukan monetisasi, maka WhatsApp harus menyesuaikan iklannya tersebut sesuai kebutuhan pengguna seperti yang dijanjikan pihaknya sebelumnya.Pamela Clark-Dickson, analis dari perusahaan riset Ovum mengatakan: Pesan yang kamu terima bisa saja mengandung iklan yang menarik perhatian kamu. Akan tetapi WhatsApp harus tetap berhati-hati, karena banyak orang yang menggunakan aplikasi ini justru karena WhatsApp ‘bersih’ tanpa iklan.”

Bisnis menggiurkan di Instagram Stories

Berbeda dengan WhatsApp, Instagram Stories tampaknya memang menjadi lahan bisnis yang lebih menjanjikan dibandingkan pesaingnya. Pasalnya Instagram saat ini memiliki 150 juta pengguna Stories yang aktif. Ditambah tujuh puluh persen dari total seluruh penggunanya di dunia mengikuti lebih dari lima juta akun Instagram Bisnis, seperti diklaim Instagram dalam blog resminya. Di kawasan Asia Tenggara misalnya, Instagram bukan hanya digunakan sebagai tempat untuk membagikan foto, tetapi juga sebagai tempat untuk orang berbelanja, seperti dikutip dari wall street Journal. Khusus di Indonesia, berdasarkan data yang dihimpun dari wearesocial, pengguna Instagram per 2017 telah mencapai tiga puluh sembilan persen dari empat puluh persen pengguna aktif media sosial. Besarnya pengguna Instagram di Indonesia tersebut telah memicu perkembangan e-commerce. Setidaknya empat puluh enam persen pengguna aktif media sosial mengunjungi toko online, serta empat puluh satu persen membeli produk dan jasa secara online.

Aktivitas yang cukup besar dalam perkembangan e-commerce di Indonesia dapat dijadikan tolok ukur dan potensi bisnis yang besar untuk Instagram. Platform ini bisa menjadi wadah bagi perusahaan yang ingin memperkenalkan mereknya dan menjalin hubungan dengan para pelanggan. Swati Nathani, Co-Founder dan Chief Business Officer Team Pumpkin menyatakan, fitur Stories memungkinkan pelaku bisnis untuk membuat rangkaian cerita atau konsep apa yang sedang mereka lakukan, tanpa harus menempatkannya di halaman profil sebagai konten yang permanen. Instagram memiliki reach yang lebih kuat dan lebih populer di kalangan anak muda daripada pengguna Facebook. Instagram memiliki peluang besar untuk memperkenalkan merek kepada audiens. Menggunakan Instagram Stories saat ini merupakan bagian dari kampanye media sosial, dan para pelaku bisnis dapat memanfaatkan hal tersebut untuk memperkenalkan mereknya melalui para influencer dan bloger,” Nathani menambahkan.

Di tengah kritik yang ditujukan kepada fitur WhatsApp Status, bukan berarti celah monetisasi tertutup untuk platform chat satu ini, apalagi dengan adanya campur tangan Idema sebagai COO WhatsApp pertama. Apakah WhatsApp benar-benar ogah melakukan monetisasi, atau justru akan menyalip langkah bisnis Instagram Stories? Menarik untuk ditunggu perkembangan berikutnya.
(Visited 19 times, 1 visits today)