trader harus paham apa itu saham

In Panduan Forex Pemula by Della Fitriani

saham

Saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Membeli saham berarti anda telah memiliki hak kepemilikan atas perusahaan tersebut. Maka dari itu, Anda berhak atas keuntungan perusahaan dalam bentuk dividen, pada akhir tahun periode pembukuan perusahaan.

Kategori Saham

Saham biasa

Saham biasa adalah surat berharga yang berfungsi sebagai bukti pemilikan suatu perusahaan. Pemilik saham ini berhak menerima sebagian pendapatan (deviden) dari perusahaan serta bersedia menanggung risiko kerugian yang diderita perusahaan.

Mereka yang memiliki saham perusahaan punya hak ambil bagian terhadap pengelolaan perusahaan. Besaran porsi hak pengelolaan ini tergantung dengan jumlah saham yang dimiliki.

1

Ketika perusahaan untung, maka mereka yang punya persentase saham yang besar akan menerima porsi keuntungan yang besar. Sebaliknya, mereka juga bersiap menderita kerugian jika perusahaan itu gagal memperoleh pendapatan.

Saham preferen

Saham preferen adalah surat berharga yang membuktikan pemiliknya memiliki hak lebih dari pemegang saham biasa. Pemegang saham ini berhak didahului saat pembagian keuntungan perusahaan (deviden). Terus juga jadi yang pertama dalam hal pembayaran kembali modal yang disetorkan jika perusahaan dilikuidasi. Terakhir, dia berhak pula menukar dengan saham biasa. Terkesan saham preferen lebih baik daripada saham biasa. Padahal tidaklah demikian. Saham preferen tidaklah lebih baik, tetapi hanya berbeda dari saham biasa. Dalam kenyataanya, cara terbaik memandang saham preferen itu adalah dengan melepaskan hak memiliki perusahaan demi dapat perlindungan layaknya kreditur.

Dua istilah pembagian saham yang akan kita bahas berikut ini:

jumlah periode yang dibutuhkan untuk mencairkan seluruh pembagian saham.

Contoh kasus vesting period 

Ambil contoh bila ada dua co-founder yang masing-masing memiliki saham 50 persen dengan vesting period 4 tahun. Itu artinya, kedua co-founder harus bekerja penuh waktu selama 4 tahun terlebih dahulu untuk mendapatkan total saham 50 persen.

Jadi, bila salah satu co-founder keluar pada akhir tahun pertama, maka ia hanya akan mendapatkan 1/4 bagian dari 50 persen saham yaitu 12,5 persen. Berkat klausa ini, startup akan tetap memiliki sejumlah porsi saham yang dapat dibagikan kepada calon pemimpin selanjutnya. Pembagian saham pun jadi lebih adil karena berdasarkan jumlah usaha yang diberikan anggota tim kepada perusahaan.

“masa percobaan” untuk calon pemegang saham. Namun, kadang-kadang Anda bisa saja bermitra dengan orang yang salah. Partner Anda bisa saja tidak berkontribusi secara signifikan pada perusahaan dan “dipecat” setelah baru bekerja selama enam bulan. Berapapun jumlah saham yang Anda berikan kepadanya pada tahap ini, akan tetap menyakiti perusahaan karena porsi saham startup Anda dipegang oleh seseorang yang tidak kompeten.

Inilah waktu yang tepat untuk memasukkan klausa cliff period atau “masa percobaan” bagi sang co-founder. Bila cliff period yang digunakan ialah 1 tahun untuk skenario ini, maka kedua co-founder harus bekerja selama setahun terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa mereka pantas mendapatkan bagian saham mereka.

Apabila co-founder tidak memberikan performa signifikan, maka ia bisa saja dilepaskan oleh perusahaan tanpa mengambil saham apapun dalam periode 1 tahun itu. Namun bila ia berhasil menyelesaikan tahun pertamanya dengan baik, maka ia akan mendapatkan jatah vesting period-nya. Bila kita menggunakan skenario awal dua co-founder dengan pembagian 50-50, vesting period 4 tahun, maka masing-masing pihak akan mendapatkan 1/4 bagian dari 50 persen yakni 12,5 persen di akhir tahun pertama.

(Visited 18 times, 1 visits today)