4 Kekeliruan Fatal Dalam Menentukan Support dan Resisten Forex

In Panduan Analisa Teknikal by Kia Pratiwi

Banyak trader forex di luar sana yang masih sering dipusingkan oleh kekeliruan yang mereka buat dalam penentuan level-level support dan resisten di grafik trading forex mereka. Entah kekeliruan itu karena belum paham atau memang tidak sengaja, menentukan level support dan resisten adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang trader karena pengaruhnya sangat krusial bagi performa trading. Kurang teliti atau kurang memahami chart adalah hal dasar yang menyebabkan trader salah dalam menganalisis. Namun, banyaknya poin-poin data di grafik harga di metatrader juga menjadi faktor yang sering berujung pada perbedaan metode penentuan support dan resisten, serta pendekatan yang digunakan untuk menemukan titik support dan resisten tersebut.

4 kekeliruan yang sering dilakukan oleh para trader saat menandai titik support dan resisten sehingga mengacaukan trading mereka.

1. Garis-Garis Horizontal Dibuat Tanpa Tujuan

Asal tarik garis sana-sini, kanan-kiri, tanpa ada tujuan yang jelas terkadang dilakukan oleh trader yang belum paham bagaimana memahami titik support dan resisten. Oleh karena itu, pertama-tama, tanyakan dulu kepada diri kita sendiri, “Mengapa kita membuat garis-garis horizontal itu di grafik trading kita?” Tentu saja sebagai penanda level support dan resisten, mungkin sebagian menjawab demikian. Namun, menurut Dale Woods, penulis di The Forex Guy, menarik garis support dan resisten seharusnya tidak perlu terlalu banyak, artinya tidak perlu menarik garis di setiap level support dan resisten yang kita temukan dalam perhitungan kita.
Woods sendiri cenderung melihat chart tradingnya dari sudut pandang medium dengan jarang yang sedang antara garis support resisten satu dengan garis support resisten lainnya. Supaya apa? Supaya candlestick yang ada tetap terlihat dengan jelas. Biasakan untuk menandai poin-poin utama saja. Contohnya, Woods hanya menarik level garis horizontal untuk level mingguan (weekly) saja–yang tidak terlalu tampak di chart harian kecuali di zoom-out hingga ke rentang mingguan. Jadi, ketika kita fokus pada grafik untuk melihat analisis jangka menengah (seperti pada grafik di bawah ini), maka garis horizontal yang ada adalah garis yang berfungsi sebagai pengat bahwa ada level mingguan yang sudah kita perhitungkan. Saat tidak di zoom-out garis itu tidak bisa terlihat.

Dari gambar di atas, terlihat bahwa trader hanya menandai apa yang relevan dalam tradingnya. Level-level mingguan itu dibuat karena kepentingannya sebagai perspektif jangka panjang. Bagi trader yang tidak suka chart yang terkesan “ruwet” dengan garis yang saling-silang, metode penentuan support dan resisten semacam ini bisa digunakan agar chart tampak bersih dan bebas.

2. Terlalu Berpatok Pada Text-Book

Berusaha membuat membuat level support dan resisten yang terlalu presisi seperti di text-book justru bisa menjebak diri sendiri. Tidak perlu terlalu memaksa mencari definisi harfiah support atau resisten dengan sempurna. Contohnya adalah seperti chart di atas :

Chart tersebut menampilkan resisten yang sudah sesuai dengan penjelasan harfiahnya. Namun ternyata, sumbu candlestick menunjukkan gerak yang tidak mendukung untuk melanjutkan candle turun (level tersebut telah menjadi support. Market pun menembus level resisten itu dan menguji kembali level di sisi lainnya sehingga mengubah garis resisten tadi menjadi support padahal juga belum tentu. Melihat fenomena ini, trader yang terlalu presisi tadi langsung menamai garis resisten sebagai support. Mereka lupa mempertimbangkan bahwa pasar mempunyai element of noise.

Contoh lain yang juga salah adalah seperti diatas :
Grafik semacam itu juga membingungkan dan membuat kita gagal paham untuk melihat apa yang sedang terjadi, karena hanya memaksakan agar sejajar dengan sumbu candle. Jadi, sekali kita sudah menarik garis horizontal, usahakan agar garis itu adalah acuan bagi kita. Penanda penting yang menunjukkan apa tujuan kita, contohnya seperti grafik di atas :

Jelas bahwa garis horizontal yang hanya satu itu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang terjadi di pasar. Walaupun sumbu-sumbu candle tidak sejajar dengan high dan low-nya, yang penting ada kita mendapat gambaran tentang dinamika apa yang sedang terjadi di pasar. Inilah fungsi lain support dan resisten bagi analisis kita.

3. Menggambar Garis ‘Benang Kusut’

Pernah melihat sisi belakang kain bordiran? Seperti diatas kira-kira gambarnya:

Ini juga lah yang terjadi pada chart seorang trader yang terlalu berlebihan dalam membuat garis support dan resisten. Mungkin dia memang seorang intraday trader dan memang hanya dia yang memahami garis-garis dalam grafiknya, namun untuk beberapa orang, grafik seperti ini bisa membuat pusing.

Jika kita memilih strategi intraday, ada baiknya level support dan resisten kita rancang seperti diatas :

Cukup tandai satu atau dua level intraday lalu gerakkan ke atas dan ke bahwa sesuai dengan progres harga melalui tren-nya. Terlalu berlebihan menganalisis pasar bisa membahayakan trading Anda. Selalu ingat untuk menandai level-level yang mempunyai siginfikansi dengan chart harian atau mingguan kita.

4. Terlalu Menghindari Pasar

Contoh lain yang dipaparkan oleh penulis adalah grafik yang menunjukkan bahwa trader terlalu menghindari tren sehingga melewatkan peluang-peluang trading yang bagus:

Pada dasarnya menentukan level support dan resisten adalah tentang periode waktu pengamatan. Seberapa jauh periode waktu pengamatan yang dianggap valid, apakah jika kita mundur makin ke belakang akan semakin valid?

(Visited 62 times, 1 visits today)