5 Situasi yang Membuat Karyawan Terbaik Mengundurkan Diri

In Berita Terhangat dan Terkini by Kia Pratiwi

Setiap perusahaan pada umumnya berpikir bahwa mereka telah bekerja dengan baik dalam urusan pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Di era yang serba kompetitif seperti sekarang, kehilangan karyawan terbaik telah menjadi sesuatu yang tak hanya harus dibayar mahal menggunakan uang, tetapi juga dengan waktu dan tenaga. Oleh karena itu, sebuah manajemen SDM yang ideal sepatutnya bisa menyeimbangkan kebutuhan rekrutmen tenaga baru dan memperhatikan kebahagiaan karyawan yang telah bergabung lebih dahulu. Tantangan ini berlaku tak hanya di perusahaan besar saja, tetapi juga dalam ranah startup yang umumnya memiliki keterbatasan dari sisi tenaga dan kapital.

Untuk memastikan loyalitas selalu terjaga, perusahaan perlu mendalami betul alasan umum yang mendorong karyawan terbaik pergi meninggalkan pekerjaan mereka. Hal ini diperlukan untuk mempertimbangkan strategi manajemen SDM perusahaan, dengan harapan bisa meminimalkan kemungkinan perginya karyawan terbaik.

Terlepas dari faktor di luar kendali seperti tawaran kerja baru, pertimbangan personal karyawan, atau lainnya, menurut kami ada lima alasan dari sisi internal mengapa karyawan terbaik mengundurkan diri, meski tampak begitu menyukai pekerjaannya.

Berikut adalah kelima alasan tersebut :

Situasi yang stagnan

Seorang pekerja (baik di perusahaan besar maupun startup) cenderung tidak ingin terjebak dalam pekerjaan yang menjemukan selama bertahun-tahun. Melakukan rutinitas pekerjaan yang sama berulang-ulang tanpa merasakan perubahan berarti dapat diartikan sebagai bentuk stagnan. Hal ini bisa menyebabkan rasa jenuh yang perlahan-lahan membuat orang tak lagi menyukai pekerjaan mereka. Berdasarkan Survei yang dirilis oleh Glassdoor, sebuah perusahaan yang menyediakan platform pencarian kerja online, pekerja yang terus-menerus berada dalam kondisi stagnan umumnya akan meninggalkan pekerjaan mereka untuk mencari hal baru di luar perusahaan. Cara yang bisa ditempuh perusahaan untuk menghindar dari situasi stagnan adalah menciptakan jenjang jalur karier yang jelas, agar karyawan bisa melihat ke mana arah mereka di masa akan datang.

Selain itu, memberikan kesempatan karyawan untuk menyumbang ide baru adalah salah satu upaya terbaik dalam menghindarkan pekerja dari situasi stagnan. Dengan kesempatan yang diperolehnya, seorang pekerja bisa berimprovisasi terhadap pekerjaan dan berkreasi menghasilkan sesuatu yang di luar ekspektasi perusahaan. Kebebasan berkreasi dan menyumbang ide semacam ini menjadi suatu hal lebih mudah ditemui di dunia startup. Dengan kultur yang cenderung dinamis, seorang pekerja dapat terhindar dari perasaan stagnan, dan merasa bahwa dirinya lebih dari sebatas sekrup kecil dalam sebuah mesin yang kompleks.

Kerja yang terlalu diforsir

Tidak ada situasi lain yang membuat orang begitu cepat membenci pekerjaan mereka selain kondisi kerja yang berlebihan atau overwork. Rasa lelah dan stres tinggi merupakan alasan yang perlu diketahui para petinggi perusahaan, apalagi di saat mereka memberlakukannya dalam situasi yang cukup genting. Jangan sampai beban kerja berlebih ditimpakan hanya pada individu terbaik perusahaan, meski kemampuan yang dimilikinya sangat dibutuhkan. Manajemen perlu mempertimbangkan dampak overwork terhadap karyawan dan memberikan apresiasi lebih, seperti berupa insentif bonus, tambahan masa cuti, atau lain sebagainya. Kondisi overwork bukanlah sesuatu yang mustahil ditemukan di era serba kompetitif seperti sekarang, baik di lingkup perusahaan besar maupun dalam startup. Dengan medan persaingan yang begitu sengit, kebutuhan kerja keras perlu diimbangi dengan inisiatif kerja cerdas, agar karyawan tetap merasa dimanusiakan.

Kondisi perusahaan yang kurang apresiatif

Pekerja tak ubahnya manusia pada umumnya. Para karyawan memiliki kebutuhan untuk dihargai atas pencapaian yang telah diperoleh, terutama dari hasil jerih payah mereka. Penghargaan bisa menjadi motivasi untuk terus melakukan yang terbaik dalam hal pekerjaan mereka. Kekurangan terhadap apresiasi juga bisa mendorong seorang karyawan melirik tawaran kerja lain yang ada di luar perusahaan. Ketika manajemen kurang menghargai jerih payah seorang karyawan, mereka tidak hanya gagal memotivasi kinerjanya, tetapi juga gagal memberikan efek positif terhadap kultur pekerjaan yang susah payah dibangun. Pemberian apresiasi tak harus berupa kenaikan gaji, insentif cuti, atau fasilitas lain-lain. Perusahaan bisa saja menempuh cara mudah seperti pemberian pujian, atau sekadar perhatian lebih dari atasan. Intinya dengan memberikan apresiasi, setidaknya karyawan tidak merasa diperas dari segi tenaga mereka saja.

Kultur bekerja apatis dan kompetitif

Kultur perusahaan yang positif cenderung menciptakan pengalaman kerja atraktif untuk dijalani para karyawan. Sebaliknya ketika kultur tersebut mementingkan pencapaian individual, kurang bersahabat, atau apatis, nuansa bekerja tidak lagi akan disenangi. Mengapa? Karena dalam lingkup pekerjaan model “hukum rimba” semacam ini, melakoni pekerjaan tak lebih dari sekadar upaya bertahan hidup di lingkungan profesional yang sangat kompetitif. Model lingkungan atau kultur bekerja semacam ini umumnya jarang dijumpai dalam ranah startup, namun bukan berarti tidak ada. Seiring dengan makin besarnya perusahaan atau startup tempat kamu bekerja, semakin besar kemungkinan kultur bekerja yang mengedepankan sisi kompetitif akan muncul. Di saat para karyawan sudah muak dan tak lagi betah dengan suasana kerja ini, jangan salahkan jika karyawan terbaik lebih memilih keluar mencari suasana baru di perusahaan lainnya.

Arah perusahaan yang tidak jelas

Salah salah satu kemampuan karyawan adalah mengamati, merasakan, dan menilai situasi perusahaan secara langsung dari dalam. Dari pandangan itulah, mereka menilai apakah sebuah perusahaan maupun startup mampu mencapai visi dan misi yang telah ditentukan. Seorang individu profesional pastinya tidak ingin dibuai dengan mimpi yang terlalu tinggi dari perusahaan maupun startup tempat ia bekerja. Ia akan jeli mengamati situasi yang terjadi di sekitar, mulai dari kesehatan finansial perusahaan, arah kebijakan, pergeseran kultur, dan lain-lain. Situasi terburuk dari proses observasi ini adalah ketika kantor tempatnya bekerja mulai memperlihatkan pertanda buruk yang berpotensi merugikan karyawan di kemudian hari. Kondisi seperti gaji yang telat dibayar berbulan-bulan, pemutusan hubungan kerja karena salah kebijakan direksi, dan lainnya bisa menjadi sinyal untuk mencari “sekoci” baru bagi mereka.

(Visited 93 times, 1 visits today)