Badai Matahari Penyebab Paus Terdampar? NASA Mencari Jawaban

In Berita Terhangat dan Terkini by Reza Pahlevi

PausTerdamparWashington DC – Ikan paus, lumba-lumba, dan porpoises— dikenal secara kolektif sebagai cetacean — sebagian menggunakan sensor medan magnetik untuk melakukan navigasi. Menurut ilmuwan NASA, ada penjelasan awal untuk peristiwa terdamparnya cetacean yang hingga kini masih menjadi misteri. Yaitu karena kompas internal hewan itu kebingungan selama badai matahari hebat yang mempengaruhi medan magnetik bumi, sehingga mereka kehilangan arah.

Untuk menyelidiki misteri laut ini, NASA telah meluncurkan sebuah riset pertama yang berupaya membuktikan apakah terdapat keterkaitan antara badai matahari dan terdamparnya mamalia laut (animal beaching). “Jika kita memahami hubungan diantara keduanya, kita mungkin dapat mengamati badai matahari sebagai peringatan awal untuk kemungkinan akan terjadi peristiwa hewan laut terdampar,” kata Katie Moore, kolaborator pada riset NASA. Cetacean yang terdampar di pantai di sejumlah lokasi di dunia dalam tiga ekor atau beberapa ratus untuk satu kali peristiwa. Moore yang juga Direktur Program Animal Rescue di International Fund for Animal Welfare, mengatakan fenomena global ini paling sering terjadi di Selandia Baru, Australia dan Cape Cod, Massachusetts.

NASAMeski pun peristiwa terdamparnya mamalia laut kerap terjadi, pemimpin riset Antti Pulkkinen, seorang heliophysicist (ilmuwan yang mempelajari dampak matahari dalam sistem tata surya) di Goddard Space Flight Center NASA, mengatakan sejauh ini sangat sedikit riset kualitatif yang telah dilakukan.”Kami memperkirakan catatan terdamparnya ratusan cetacean secara massal akan tersedia untuk riset ini. Ini membuat analisa kami secara statistik menjadi signifikan,” kata Pulkkinen.

Informasi
Pulkkinen dan sejumlah kolaborator akan bekerja dengan Bureau of Ocean Energy Management federal dan International Fund for Animal Welfare untuk menyaring berbagai laporan terdamparnya cetacean, basis data cuaca di angkasa dan observasi lapangan. Para peneliti berharap dapat menyelesaikan riset tersebut akhir September mendatang.
(Visited 35 times, 1 visits today)