Bagaimana Peradaban Mesir Kuno Hancur? Simak Hasil Riset Ini

In Berita Terhangat dan Terkini by Reza Pahlevi

Kejatuhan peradaban Mesir Kuno banyak diperbincangkan dalam berbagai hasil riset. Banyak penelitian mengungkap bahwa kejatuhan peradaban itu karena kekuatan militer Mesir Kuno melemah sehingga Persia bisa menduduki wilayah tersebut.

Namun sebuah studi baru menunjukkan bahwa kehancuran peradaban kuno itu dikarenakan stres sosial yang merupakan dampak dari bencana alam berupa perubahan cuaca dan gunung meletus. Seperti dilansir laman Express.co.uk, Joseph Manning, penulis utama pada studi yang menyelidiki runtuhnya kerajaan yang terkenal memiliki piramida itu, menyatakan bahwa kombinasi kedua bencana alam tersebut menyebabkan keresahan yang besar.

Menurut Manning, orang-orang Mesir Kuno hampir bergantung secara eksklusif pada banjir dari sungai Nil yang terjadi karena hujan di musim panas di Afrika Timur untuk menanam tanaman mereka. Di tahun-tahun yang dipengaruhi oleh letusan gunung berapi, banjir bandang menjadi berkurang, menyebabkan tekanan sosial yang bisa memicu kerusuhan dan memiliki konsekuensi politik dan ekonomi lainnya. "Studi ini sangat penting untuk debat terkini tentang perubahan iklim," ujar Manning.

Jennifer Marlon, anggota studi dari Trinity College Dublin, menambahkan, sangat jarang dalam sains dan sejarah yang memiliki bukti kuat dan terperinci dalam mendokumentasikan bagaimana masyarakat menanggapi perubahan iklim di masa lalu. Karena itu, Marlon, Manning, dan tim berusaha mengungkap hal tersebut dengan pemodelan. Tim peneliti menggunakan pemodelan letusan gunung berapi, catatan banjir, dan temuan kontemporer untuk menciptakan penjelasan yang paling gamblang tentang apa yang terjadi pada negara Afrika masa itu. Kurangnya curah hujan di Mesir Kuno dilaporkan telah sangat menghambat kemampuan kerajaan itu untuk mengumpulkan tentara untuk melancarkan serangan atau bahkan mempertahankan kerajaan itu sendiri.

Studi baru yang dipublikasikan di Nature Communications ini mengungkap bahwa kekurangan pangan menyebabkan kekacauan politik dan ekonomi yang bisa membuat Mesir kuno terjerumus ke dalam keruntuhan. Aktivitas vulkanik di wilayah tersebut mengurangi jumlah banjir musim panas dari Sungai Nil yang selama peradaban Mesir Kuno selalu diandalkan untuk menghasilkan sumber pangan ke masyarakat luas.

Francis Ludlow, salah satu pimpinad dalam studi tersebut menyatakan, untuk memahami betapa besar tekanan lingkungan dapat menyebabkan ketidakstabilan masyarakat, tim kemudian melihat konteks historisnya. "Dalam kasus ini, tekanan besar juga berasal dari pajak dan ketegangan etnis yang kemungkinan bersatu untuk memicu pemberontakan pada saat terjadi kegagalan pertanian akibat banjir yang tidak kunjung datang," Kata Francis.

Menurut dia, banyak gunung berapi meletus setiap tahun, namun tidak mempengaruhi sistem iklim di masa lalu. "Belum ada letusan yang benar-benar besar yang mempengaruhi sistem iklim global sejak Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991," ujar Francis. "Cepat atau lambat manusia akan mengalami letusan gunung berapi yang besar, dan bisa memperburuk kekeringan di daerah-daerah yang sensitif di dunia," katanya. Francis juga menambahkan, penelitiannya dan tim sekaligus menunjukkan perlunya studi lebih lanjut mengenai dampak gangguan iklim vulkanik terhadap masyarakat modern di seluruh dunia.

Temuan baru menunjukkan bahwa sebanyak 70 persen bagian dunia mangandalkan musim hujan untuk panen. Para peneliti menggunakan penelitian ini sebagai peringatan terhadap ketergantungan dunia pada curah hujan, yang bisa mengakibatkan dunia modern akan mengalami kisah yang sama. Para peneliti ini berencana untuk menganalisis sumber modern lebih lanjut untuk menambah argumen mereka bahwa sebuah peradaban besar bisa lumpuh akibat perubahan iklim dan aktivitas vulkanik.

Studi ini secara signifikan mengubah citra Mesir Kuno yang dianggap sebagai kerajaan kaya dengan kekuatan militer yang tak tertandingi.
(Visited 62 times, 1 visits today)