Bagaimana Teknologi Meningkatkan Efisiensi Kerja Perusahaan Pengiriman Barang?

In Berita Terhangat dan Terkini by Kia Pratiwi

Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Di antara seluruh orang yang berada di pusat logistik ecommerce regional  (eComm Log Hub) SingPost saat itu, mungkin saya satu-satunya yang belum sepenuhnya sadar. Di sini bisnis sudah berjalan sejak pagi. Mobil-mobil van tampak berangkat keluar, bersama para kurir SingPost yang dikenal dengan sebutan “ambasador parsel”. Hidup sebagai staf pengiriman barang itu berat. Mereka harus menghadapi kemarahan pengguna bila ada kiriman gagal atau barang hilang. Dulu, tanpa adanya protokol yang tegas atau barang bukti, sulit membuktikan bahwa staf pengiriman tidak bersalah ketika terjadi kehilangan barang.

Resolusi Jasa Pengiriman

Kini, teknologi—misalnya software manajemen transportasi—memungkinkan pengiriman barang yang transparan, adil, akurat, dan cepat, sebab data semua pengiriman disimpan secara online dengan catatan pemeriksaan lengkap. Sebagai contoh, penggunaan alat pindai barcode memastikan bahwa jumlah paket yang diantarkan selalu tepat. Pada kasus lain, sebelum sebuah paket dinyatakan berhasil terkirim (atau gagal), kurir harus memasukkan dulu kode yang ada pada smartphone milik pelanggan. Pertanyaannya, apakah berbagai teknologi tersebut telah berhasil membantu meringankan beban kerja para kurir? Kami  mencoba mencari tahu dengan menjalankan profesi tersebut selama satu hari.

Teknologi mempercepat pengiriman di pagi hari
Berkat fasilitas yang bisa memilah parsel berdasarkan kode pos secara otomatis, ambasador parsel yang berada di eComm Log Hub bisa langsung memindahkan parsel-parsel ke dalam mobil-mobil van pengirim. Talang tempat keluarnya parsel dari fasilitas tersebut juga bisa diperpanjang sampai mendekati pintu mobil, sehingga para staf bisa memindahkan paket-paket mereka dengan lebih mudah, terutama bila ada barang berat atau berjumlah banyak. Sistem ini bisa memilah hingga seratus ribu paket per hari, dan bisa beroperasi semalam suntuk di masa-masa sibuk. Biasanya masa sibuk itu jatuh pada hari Selasa.

Ismadiana Binte Samsudin (Diana), salah satu ambasador parsel di SingPost, telah bekerja sebagai pengirim barang selama tiga tahun. Tidak mudah untuk menjadi seorang ambasador parsel. Di samping pelatihan di kelas dan praktik, ada juga ujian tertulis untuk penilaian di akhir program pelantikan para ambasador baru. Kami melapor pada jam 7.30 pagi untuk mengangkut parsel-parsel ke mobil van di eComm Log Hub. Kemudian kami berangkat mengantar pada pukul 8.30 supaya tidak terjebak macet,” kata Diana. Kegiatan harian Diana umumnya selesai di sore hari. Setelah semua pengiriman selesai, ia akan melapor kembali ke eComm Log Hub sambil membawa paket-paket yang gagal terkirim karena penerima sedang tidak berada di tempat.

Proses Pengiriman
Hari itu, cuaca terasa hangat dan bersahabat—berbeda dari dua hari terakhir yang diterpa hujan angin. “Kalau cuaca buruk, saya tinggal pakai payung saja,” Diana berkelakar. Sulit membayangkan bagaimana caranya memegang payung dengan kedua tangan yang penuh parsel.  Kami menyusuri pemukiman, melewati anak tangga, dan mencari blok yang sesuai dengan alamat pengiriman. Sesampainya di sana kami harus mencari lift, yang kadang-kadang sulit ditemukan. Di hari-hari sibuk, Diana bisa mengantar hingga lebih dari delapan puluh parsel. Bila tiap penerima menghabiskan satu menit untuk membuka pintu atau mengangkat telepon, itu artinya total waktu yang dihabiskan Diana untuk menyerahkan paket saja adalah satu setengah jam. Setiap menit sangat berharga. Andai pengiriman paket bisa dilakukan dengan robot, bayangkan betapa banyak jam kerja yang bisa dihemat.

Bila terjadi kegagalan pengiriman, Diana harus memasukkan alasannya di aplikasi milik SingPost yang bernama ezyTrak Mobile. Aplikasi ini akan mencatat status pengiriman semua barang. Diana kemudian akan mengeset status pengiriman sesuai kondisi lapangan. Rata-rata, waktu yang dihabiskan Diana di setiap alamat adalah tiga sampai lima menit. Bila dalam sehari ia bisa mengantar hingga ke delapan puluh alamat rumah, dengan satu lokasi POPStation saja ia bisa mengantar hingga dua ratus parsel sekaligus. POPStation atau Pick Own Parcel Station adalah layanan milik SingPost yang memungkinkan ambasador parsel dan pelanggan untuk meletakkan dan mengambil parsel. Layanan ini mengurangi beban kerja Diana secara signifikan. Dan ya, Diana mengangkat sendiri semua parsel ini dari mobil van, termasuk ketika harus naik turun tangga.

Teknologi + pengemudi berpengalaman = layanan pengiriman lebih baik
Aplikasi yang digunakan Ninja Van telah banyak membantu. Fahmi berkata bahwa aplikasi tersebut memungkinkan kurir yang sudah veteran untuk menyelesaikan hingga 120 pengiriman. “Sebagai gambaran, sampai jam 4-5 sore saya bisa mengirim seratus parsel dengan aplikasi ini,” ujarnya.  Saat masih menggunakan sistem tradisional dengan kertas dan pulpen, ia butuh waktu dua belas jam untuk menyelesaikan lima puluh pengiriman.

Sebagai contoh, kita berasumsi bahwa doorstep delivery adalah proses satu arah yang berakhir dengan sampainya paket di tangan pelanggan. Akan tetapi, staf pengiriman bisa mengalami adanya barang yang ditolak oleh penerima. Memilih opsi ini di aplikasi Ninja Van akan menghasilkan pilihan-pilihan tambahan tentang mengapa paket tersebut ditolak, mulai kerusakan barang atau kemasan, hingga sekadar pelanggan yang berubah pikiran. Penerima juga harus memberikan kode mobile ketika meminta kurir meletakkan paket di tempat yang tidak seharusnya, tapi umum digunakan, contohnya utilities box (boks penyimpan barang). Dengan demikian staf pengirim tidak bisa meninggalkan paket begitu saja, dan mereka tidak akan dituduh sembarangan menaruh paket.

Aplikasi juga bisa berperan penting untuk melindungi pengemudi. Saat para staf pengirim mengumpulkan parsel dari perusahaan pengangkutan, mereka langsung melakukan pemindaian. Dengan demikian jumlah parsel yang harus diantarkan pasti benar, dan staf pengirim tidak bisa disalahkan bila ada barang hilang atau lupa diserahkan pihak pengangkutan.

Elemen manusia

Meskipun teknologi bisa meningkatkan efisiensi, tenaga staf tetap memiliki peran yang sangat besar dalam mengirimkan paket-paket ke rumahmu. Fion Tan, Co-Founder dan Managing Director Lalamove untuk Singapura, bercerita tentang sebuah insiden di mana pengemudi yang berpengalaman bisa lebih akurat daripada Google Maps. “Pengemudi itu menunjuk salah satu kode pos di tabel dan berkata bahwa kodenya salah,” kisahnya. “Dia hanya butuh dua puluh detik untuk mengenali kodenya! Di peta online, kode pos tersebut menunjuk ke sebuah lokasi di Tuas, wilayah industri di Singapura bagian barat. Tetapi lokasi sebenarnya adalah suatu daerah lepas pantai di Kepulauan Jurong. Berkat pengemudi itu, satu pengiriman barang tidak jadi gagal.

(Visited 41 times, 1 visits today)