Ben Bernanke, Ketua The Fed Di Masa Krisis Finansial

In Kisah Sukses Dari Trading by Reza Pahlevi

Siapa yang tak mengenal sosok ini? Sebagai mantan ketua The Fed yang menjabat dalam 2 periode (2006-2014), Ben Bernanke pernah menjadi sosok paling berpengaruh di dunia keuangan. Setiap perkataannya selalu menjadi kekuatan agung yang dapat menggeliatkan perdagangan khususnya di forex trading. Betapa tidak, satu instruksi pasar mampu Ben lakukan hanya dengan mengeluarkan satu pernyataan. Hebat sekali kekuatan kata-katanya. Namun di balik kesuksesannya, tahukah Anda bila ia dulunya mendapat banyak cobaan ketika pertama kali menjabat sebagai pimpinan The Fed? Sebelum bergeser pada sepak terjangnya di Bank Sentral AS, mari kita simak dulu kisah Ben Bernanke yang mengungkap latar belakangnya.

Ben Bernanke dilahirkan di Augusta, Georgia pada tanggal 13 Desember 1953 dan dibesarkan di Dillon, South Carolina sebagai anak tertua dari tiga bersaudara. Philip, ayah Ben, adalah seorang ahli obat yang juga bekerja sambilan sebagai manajer teater. Sedangkan Edna, ibunya, adalah seorang guru sekolah. Keluarga Ben kecil tinggal di daerah Yahudi, dengan nama lokal sinagognya bernama Ohav Shalom. Bernanke juga mempelajari bahasa Ibrani dari kakeknya, Jonas, seorang pembaca Kitab Taurat dan guru bahasa Ibrani profesional. Ayah dan paman Ben adalah eks-pemilik sekaligus manager toko obat yang mereka beli dari kakek Ben.

Setelah lulus SMA pada tahun 1971, Ben Bernanke diterima di Harvard, tempat di mana ia mendapatkan nilai cum laude dengan gelar BA Ekonomi pada tahun 1975. Sebelum berkecimpung di pemerintahan, Ben Bernanke lebih aktif di dunia pendidikan. Ia tercatat pernah mengajar di Stanford Graduate School of Business dan menjadi profesor di Princeton University. Di tahun-tahun terakhirnya di Princeton, Ben Bernanke menerima pekerjaan sebagai anggota Dewan Gubernur Fed. Pada tahun 2004, ia sempat membuat heboh pasca melontarkan pidato yang membeberkan outline dari beberapa kebijakan moneter untuk memerangi deflasi, yang kemudian disebut sebagai Bernanke Doctrine (doktrin Bernanke).

Tahun 2005 menjadi tahun penting bagi Bernanke, manakala ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Princeton, mengakhiri masa jabatannya di Fed, dan ditunjuk Presiden AS kala itu, George W. Bush, sebagai chairman dari Dewan Penasihat Ekonomi bentukannya. Banyak pihak menafsirkan langkah ini sebagai ujian dari Bush untuk melihat kecakapannya sebagai pengganti Alan Greenspan, ketua The Fed saat itu. Ramalan ini kemudian menjadi kenyataan, karena setahun setelahnya Ben Bernanke benar-benar diangkat sebagai pimpinan The Fed.

Ketika baru menjabat, krisis-krisis yang menghadang perekonomian AS saat itu langsung menempatkan Ben Bernanke di bawah sorotan tajam. Beberapa ujian berat yang sebagian besar disebabkan oleh sang pendahulunya, Alan Greenspan. Masa kekuasaan Bernanke juga kemudian ditandai oleh krisis finansial AS 2007-2009. Belajar dari Depresi Besar tahun 1930-an, Bernanke menghindari cara penanganan terhadap krisis ekonomi saat itu, yang dia yakini justru memperburuk dampak krisis. Sejak terjadi kredit macet, pria 56 tahun tersebut sangat berperan dalam program dana talangan perbankan sebesar USD700 miliar dari pemerintah AS.

Di bawah pengawasannya, The Fed memangkas tingkat suku bunga hingga mendekati nol dan menyuntikkan likuiditas ke ekonomi AS dengan menyediakan pinjaman dengan suku bunga rendah (cheap money) ke pasar. Keputusannya memotong suku bunga diskonto sebesar 50 bps menuai banyak pujian karena berhasil menyelamatkan pasar saham Amerika dari krisis akibat efek subprime mortgage.

Menurut majalah Time, Bernanke pantas menerima julukan tersebut (orang paling kuat di dunia keuangan) karena telah membentuk kebijakan moneter Amerika Serikat untuk bertahan di tengah resesi dan berjuang menyelamatkan ekonomi global dari tepi jurang. Redaktur pelaksana Time, Richard Stengel juga mengatakan, “Bernanke, dibanding tokoh lain, tegak berdiri untuk mengatasi apa yang terjadi.”

Note :
Setelah masa kepemimpinan Ben Bernanke usai, The Fed lagi-lagi menuai banyak pemberitaan karena menunjuk Janet Yellen, wanita pertama yang berhasil duduk di jabatan tertinggi Bank Sentral tersebut. Jika Bernanke dikenal menjadi figur penting kala terjadi krisis finansial
(Visited 42 times, 1 visits today)