Data Pengeboran Di AS Dorong Harga Minyak Naik

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Harga minyak cenderung stabil di level tinggi pada awal perdagangan hari Senin pagi ini (21/Agustus). Pada akhir pekan lalu, data pengeboran dari Baker Hughes mengindikasikan kemungkinan kalau laju kenaikan produksi minyak mentah di AS bakal mulai melambat.

Pada penghujung sesi perdagangan Amerika hari Jumat, harga minyak acuan melonjak 3 persen. Pagi ini, minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran $52.68 per barel, hanya turun 3 sen dari harga penutupan sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) bertahan di kisaran $48.50, lengser 1 sen dari harga penutupan.

Kenaikan harga minyak yang cukup pesat terjadi menyusul rilis dua data penting dari Amerika Serikat. Pertama, data oil inventories yang dipublikasikan US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan sebesar 13 persen dari level tinggi bulan Maret, ke total 466.5 juta barel. Kedua, jumlah sumur pengeboran minyak aktif (oil drilling rigs) dalam data Baker Hughes menurun dari 768 ke 763 dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 18 Agustus.”(Jumlah sumur) pengeboran mengalami penurunan terbesar sejak bulan Januari, menambah (banyaknya) tanda-tanda bahwa pengetatan di pasar telah dimulai,” ujar ANZ Bank, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Di benua berbeda, ladang minyak Sharara di Libya ditutup untuk sementara sejak Sabtu lalu dengan alasan force majeure. Rumornya, terjadi blokade pada terminal penting dari ladang minyak yang menghasilkan 280,000 barel per hari (bph) tersebut, tetapi belum jelas siapa pelakunya maupun latar belakang kejadian. Dalam jangka pendek, force majeure tersebut bisa meredam ekspor minyak dari negeri anggota OPEC yang sempat dikecualikan dari kesepakatan pemangkasan output gegara seringnya terjadi konflik bersenjata ini.

Note
Walau ada support kuat yang mencegah harga minyak jatuh; analis berpendapat, minyak juga minim pendorong untuk bergerak ke tingkat harga yang lebih tinggi. Dalam sebuah catatan untuk klien, bank multinasional asal AS, Citi, menyatakan, “Walau sentimen bearish akhirnya sudah berbalik, posisi investor nampak tegang pada kedua sisi (long dan short), mengindikasikan tak adanya keyakinan kuat di pasar minyak saat ini.”
(Visited 10 times, 1 visits today)