Didukung Yield Obligasi Pemerintah, Kurs Dolar AS Stabil

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Kurs Dolar AS bertahan di level tinggi tujuh pekan versus Yen serta bergerak menguat terhadap Euro pada hari Senin ini (18/9). Indeks Dolar AS, barometer kekuatannya terhadap mata uang-mata uang mayor lain, bertahan di kisaran 91.800an, level yang dihuninya sejak melemah tipis akhir minggu lalu pasca rilis data Penjualan Ritel.

Menurut Reuters, kekokohan Dolar AS kali ini didukung oleh kenaikan yield obligasi US Treasury baru-baru ini. Menurut data di Bloomberg, yield obligasi 10-tahunan kembali meningkat ke 2.2023, tertinggi sejak akhir Agustus. Walaupun data Penjualan Ritel minggu lalu sangat mengecewakan, tetapi indeks Sentimen Konsumen dari hasil survey University of Michigan masih menunjukkan performa di atas ekspektasi (aktual 95.3 versus ekspektasi 95.1 dan previous 96.8). Aspek-aspek ini diperkirakan akan turut dipertimbangkan oleh Federal Reserve dalam rapat kebijakannya pekan ini.

“Kita telah melihat sejumlah penyesuaian dalam probabilitas kenaikan suku bunga Desember. Saya kira itu akan terus diperhitungkan, setidaknya hingga kita sampai pada FOMC (rapat FOMC minggu ini -red),” ujar Stephen Innes dari OANDA. Rapat FOMC dijadwalkan digelar selama dua hari pada 19-20 September 2017. Di akhir rapat akan disampaikan pula Ringkasan Proyeksi Ekonomi dan konferensi pers oleh pimpinan FED, Janet Yellen.

Poundsterling masih mengungguli Dolar dengan pair GBP/USD “nangkring” di 1.3593, level tertingginya sejak Juni 2016, di tengah pekatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoE dalam waktu dekat. Akan tetapi, Dolar sementara ini berada di posisi lebih kuat versus Yen, sehubungan dengan beralihnya fokus pasar ke isu Pemilu Dini yang mendadak diumumkan oleh PM Shinzo Abe.

Satoshi Okagawa, Analis Pasar Global Senior di Sumitomo Mitsui Banking Corp Singapura, menilai, fakta bahwa partai oposisi utama tengah kacau balau, merupakan pertanda baik bagi Abe dan partai LDP yang berkuasa, jika Pemilu Dini diadakan sekarang. Hal ini karena approval rating PM Abe yang sempat merosot hingga di bawah 30% pada bulan Juli, sekarang telah naik hingga sekitar 50%.

Sementara itu, pasangan mata uang EUR/USD nampak cukup kalem meski telah menurun hingga kisaran 1.1943, masih di bawah level tinggi dua setengah tahun pada 1.2092 yang tercapai pada awal bulan ini. Tadi pagi, beredar kabar Kepala Ekonom ECB, Peter Praet, mengatakan dalam sebuah wawancara media cetak, “Stimulus yang substansial masih dibutuhkan. Semua pihak setuju bahwa kita harus memastikan kalau pengurangan stimulus (tapering) dilaksanakan secara teratur, tanpa shock yang berlebihan.”

(Visited 11 times, 1 visits today)