Emas Semakin Turun, Diterjang Penguatan Dolar AS Karena The Fed

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

emasHarga emas di sesi Asia pada hari Jumat ini (16/12) semakin terpuruk karena sudah mengalami penurunan harga sebesar 1 persen ke level rendah sejak bulan Februari pasca keputusan bank sentral AS kemarin. Saat berita ini diturunkan, pair XAU/USD diperdagangkan di kisaran level harga 1,131 Dolar AS dan harga emas Antam pecahan 1 gram turut melandai dari sebelumnya Rp 583,000 menjadi Rp 582,000.

Sementara itu, pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Februari menurun ke level harga 1,132 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga perak futures untuk pengiriman bulan Maret terpatau turun menjadi 16.06 Dolar AS per troy ons dan harga tembaga futures untuk pengiriman bulan Maret berada di kisaran level harga 2.600 Dolar AS per pound.

Informasi
Pada sesi perdagangan Kamis malam kemarin, harga emas ambruk dan menuju ke level terendahnya lebih dari 10 bulan setelah the Fed untuk pertama kalinya memutuskan untuk menaikkan tingkat suku bunga-nya. Anjloknya harga emas ini juga dipicu oleh pernyataan Janet Yellen yang dinilai hawkish.

Setelah bank sentral AS secara tak terprediksi mensinyalkan akan menaikkan tingkat suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun depan, rilis data dari Departemen Ketenagakerjaan AS kemarin menunjukkan bahwa klaim pengangguran AS melandai menjadi 254,000 dari 258,000 di periode sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan mata uang Dolar AS semakin menguat dan menuju ke level tinggi 14 tahun dan mendorong logam mulia emas diperdagangkan di level sangat rendah.

Kenaikan harga emas ke level tinggi beberapa waktu lalu pada tahun 2016 ini telah terhapus, sejalan dengan harga emas saat ini yang merosot ke level rendah lebih dari tiga tahun. Sentimen negatif terhadap emas semakin meningkat karena kini para pelaku pasar beralih ke aset dengan return yang lebih tinggi. Sektor ekuitas dan aset imbal balik bunga pada hari kemarin menunjukkan kenaikan signifikan, terdorong oleh spekulasi bahwa rencana kebijakan ekonomi Presiden baru AS, Donald Trump mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi AS.

(Visited 19 times, 1 visits today)