Emas Terperosok, Tak Bisa Menepis Kuatnya Dolar Karena Data GDP

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

EmasLagi-lagi penguatan mata uang Dolar dan sektor ekuitas AS membuat perhatian sebagian besar investor beralih dari aset safe haven seperti logam mulia emas. Kondisi ini menyeret harga emas di sesi Asia hari Jumat ini (31/03) turun signifikan dari level sesi perdagangan sebelumnya. Harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Juni pada Comex New York Mercantile Exchange melandai sebesar 0.38 persen ke level 1,243 Dolar AS per troy ons dan harga emas spot melemah 0.11 persen menjadi diperdagangkan di level 1,241 Dolar AS.

Harga emas jatuh ke level rendah lagi sejalan dengan kenaikan indeks Dolar ke kisaran 100, level tingginya sembilan hari. Pada sesi perdagangan hari Kamis malam, Dolar terpantau naik dan berusaha untuk menghapus penurunannya di sesi sebelumnya akibat dari pelaku pasar yang meragukan kemampuan Donald Trump. Mata uang Negeri Paman Sam ini bisa rebound akibat komentar hawkish beberapa petinggi the Fed dan positifnya beberapa rilis data ekonomi penting AS.

Departemen Perdagangan AS menyatakan bahwa data GDP untuk kuartal IV naik di atas ekspektasi pasar menjadi 2.1 persen dari sebelumnya hanya 1.9 persen. Data Consumer Spending di kuartal empat turut meningkat dari 3.0 persen menjadi 3.5 persen, diatas estimasi pemerintah yang hanya sebesar 2.5 persen. Sementara data Initial Jobless Claims yang mengalami penurunan sebanyak 3,000 menjadi 258,000 juga membuat harga emas mengalami penlemahan lebih lanjut selama sesi malam kemarin.

Harga emas telah meningkat cukup signifikan selama tahun 2017 ini seiring dengan investor yang menimbang risiko bahwa Presiden Donald Trump tidak akan bisa mengimplementasikan agendanya. “Sebelumnya, harga emas mendapat dukungan dari kegagalan Trump untuk mereformasi UU layanan kesehatan AS, tapi saat ini pasar cenderung memilih untuk menunggu perkembangan baru dan beberapa tren yang bisa mempengaruhi kondisi pasar,” kata Brien Lundin, editor Gold Newsletter.

Note :
Sedangkan menurut seorang analis di Natixis, Bernard Dahdah, harga logam mulia dapat menanjak lagi ketika hasil pemilu Eropa nantinya mampu mengejutkan pasar. Selain itu, logam emas bisa jadi akan mendapat dukungan pula dari proses Brexit setelah beberapa waktu lalu Perdana Menteri Theresa May secara resmi mengumumkan Inggris segera melakukan negosiasi dengan Uni Eropa.
(Visited 24 times, 1 visits today)