Full Indicator vs Naked Chart

In Panduan Analisa Teknikal by Kia Pratiwi

Banyak teman trader, terutama yang baru belajar trading menanyakan: indikator apa sih yang paling bagus?” Saya selalu menjawab pertanyaan seperti ini dengan jawaban standar: “semua indikator bagus kok, tergantung pemahaman kita terhadap indikator tersebut.” Terus-terang, itu jawaban yang paling “aman” daripada saya kemudian harus menerangkan satu atau bahkan beberapa indikator dari pengertian, cara bacanya, kelebihan dan kekurangan sampai ke pamahaman.

Cara Memahami Indikator


Sebenernya kalau dilihat filosofinya ya memang seperti itu adanya. Dalam trading forex kan ada banyak sekali indikator. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Tinggal kita aja yang pilih, mau pake yang mana. Atau kalau belom terpuaskan dengan indikator yang ada, ya bikin custom indicator sendiri aja.

Memahami indikator itu mirip seperti memahami pasangan kita. Kita harus paham watak dasar dari indikator tersebut. Kita juga harus tau, kapan dia ngambek alias ngasih false signal dan juga mesti tau bagaimana cara ngerayunya atau mensikapinya. Sebaliknya, kita juga mesti tanggap, kalau pas dia lagi tersenyum alias ngasih sinyal yang terang benderang. Ok deh, setelah paham satu indikator, biasanya kita akan terpacu untuk memahami indikator lain. Mulai deh, muncul masalah baru. Banyak temen trader yang malahan mengeluh setelah tahu banyak indikator; “makin banyak tau kok jadi makin ragu yaa?”

Banyak yang malahan merasa, trading jadi terasa ruwet setelah “agak” paham tentang indikator. Sempat terlintas di benak saya setelah rada ngerti tentang beberapa indikator; “wew… kok malah jadi bikin ragu untuk open nih? Mendingan dulu, waktu belom pake indi, OP hanya menurut feeling aja… malahan lebih mantaps tuh” Nah, jadi gimana tuh? Perlu gak sih kita paham banyak indikator?

Ideal Dalam menggunakan Indikator


Trus juga, idealnya, ada berapa indikator yang kita pasang di satu chart? Wah, kalo ditodong seperti itu, paling-paling saya juga menjawab dengan jawaban”aman” lagi: secukupnya. Biasanya sih saya pake satu indikator untuk melihat trend, satu indikator untuk melihat momentum, dan satu indikator untuk melihat batasan support-resistance.” Paling-paling setelah itu, pertanyaan berlanjut dengan: “coba lihat chart-nya dong, indi apa yang biasanya dipake?”

Mmm… ya udah, saya jawab apa adanya aja. Saya biasanya pake indi dengan settingan begini begitu… atau.. kalo lagi males ya cukup Naked Chart aja. Nah kan, akhirnya keluar juga deh, bahwa ternyata indikator bagaimanapun juga cuma alat bantu. Keputusan tetap sepenuhnya ada di tangan kita. Indikator cuma berperan meningkatkan keyakinan kita terhadap tingkat keberhasilan keputusan kita.

Jadi suka-suka kita aja, mau pake indikator bertumpuk-tumpuk di chart kita, atau cukup pake naked chart, alias trading tanpa indikator, cuma pakai candlestick doang. Asalkan kita bisa yakin dalam mengambil keputusan, itu semua terserah kita. Itulah enaknya trading. Nggak ada keharusan apapun, termasuk keharusan dalam memilih dan memakai indikator. Kalau kata salah seorang mentor saya; “suka-suka kita lah”. Jadi, nggak usahlah  kelamaan bingung pilah-pilih indikator. Pilihlah yang paling mudah dipahami, atau pakai saja naked chart.

(Visited 92 times, 1 visits today)