Harga Emas Melandai Karena Penguatan Bursa Saham Dan Dolar

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Harga emas di sesi Asia pada hari Rabu (02/08) ini terpantau sedikit turun. Pasar saham AS menguat dengan didorong oleh kenaikan signifikan indeks saham Dow Jones, sehingga berimbas pada harga logam mulia.

Saat berita ini ditulis, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Desember pada Comex New York Mercantile Exchange menurun 0.52 persen ke level harga 1,272 Dolar AS per troy ons dan harga emas spot XAU/USD melandai 0.20 persen menjadi diperdagangkan di kisaran level harga 1,266 Dolar AS. Sedangkan harga emas batangan pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk flat di level Rp 597,000 dan harga buy back naik ke level harga Rp 534,000.

Indeks Dow Jones mengalami kenaikan sebesar 0.3 persen, mencetak rekor tertingginya lagi. Indeks saham S&P 500 juga terpantau meningkat 0.2 persen, didorong oleh performa yang sangat baik dari grup saham dari perusahan industri keuangan dan teknologi. Selain apiknya performa bursa saham, harga emas juga ditekan oleh kenaikan kurs Dolar. Mata uang Dolar AS berusaha rebound setelah pada sesi sebelumnya melemah ke level rendah 15 bulan. Adanya jeda tekanan jual, berdampak positif bagi Dolar, sejalan dengan para investor yang mulai mengatur posisi mereka kembali dan berfokus ke rilis data NFP AS akhir pekan ini.

Pada sesi New York kemarin, harga emas sempat naik setelah rilis data tingkat inflasi, personal spending dan aktivitas manufaktur AS, gagal untuk mengurangi kekhawatiran para pelaku pasar tentang kondisi perekonomian negeri Paman Sam. Data inflasi terbaru menunjukkan bahwa data consumer spending AS melemah ke 0.1 persen seiring data personal income yang untuk pertama kalinya tidak mengalami kenaikan. Rilis data ISM PMI Manufaktur AS juga mengalami penurunan dari sebelumnya 57.8 ke 56.3.

Beberapa analis masih meragukan bahwa Federal Reserve akan mengetatkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. “Pelemahan data ekonomi AS yang masih berlanjut, semakin membuat investor bertanya-tanya apakah tingkat inflasi dapat mengalami kenaikan dan hal inilah yang menyebabkan harga emas masih diperdagangkan di level cukup tinggi”, ujar Ryan McKay, analis di TD Securities.

Senada dengan McKay, Peter Hug, Direktur di Kitco Metals mengungkapkan, “Spekulasi tentang The Fed akan lebih hawkish dan agresif sepertinya tidak akan benar-benar terjadi”. Peter Hug tidak yakin bahwa kondisi perekonomian AS saat ini cukup untuk menyokong kenaikan tingkat suku bunga lagi di tahun 2017 ini.

Note :
Sedangkan analis di Standard Chartered, Suki Cooper, menilai, “Kami memprediksi bank sentral AS akan tetap mempertahankan suku bunganya (pada bulan September -red) dan pada bulan Desember mendatang, Federal Reserve bisa jadi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin”. Dalam pada itu, Cooper berpendapat, pengurangan besaran neraca keuangan kemungkinan akan dilakukan secara bertahap.
(Visited 29 times, 1 visits today)