Harga Emas Meningkat Tipis, Tersorong Oleh Aksi Profit Taking

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Harga emas di sesi Asia pada hari Selasa ini (27/12) naik tipis karena aksi profit taking. Namun, kenaikan ini harus tertahan oleh penguatan mata uang Dolar AS terhadap mata uang safe haven seperti Yen. Saat berita ini diturunkan, pair XAU/USD diperdagangkan di kisaran level 1,137 Dolar AS. Di samping itu harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk meningkat dari sebelumnya Rp 584,000 ke Rp 585,000.
emasSementara itu, pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Februari terpantau naik tipis sebesar 0.39 persen ke level 1,138 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga perak berjangka untuk pengiriman bulan Maret berada di level 15.85 Dolar AS per troy ons dan harga tembaga futures untuk pengiriman bulan Maret menjadi 2.458 Dolar AS per pound, turun sebesar 0.83 persen.

Pada sesi perdagangan pekan lalu, harga emas naik seiring dengan Dolar AS yang terkoreksi dari penguatan di level tinggi 14 tahun dan adanya aksi profit taking terhadap logam mulia emas. Volume perdagangan pada akhir pekan lalu relatif sepi karena sebagian besar trader tengah mempersiapkan libur panjang. Meskipun demikian, kenaikan harga emas sepekan kemarin tidak dapat menghindarkan pelemahan mingguan 7 kali berturut-turut, kondisi ini merupakan pelemahan harga terpanjang dalam 12 tahun terakhir.

Kenaikan harga emas terpantau masih terbatas sejalan dengan penguatan kembali mata uang Dolar AS terhadap Yen. Hal ini terjadi karena rilis data Core Consumer Prices Jepang bulan November yang melemah, mengindikasikan bahwa kondisi perekonomian dan tingkat inflasi Jepang masih belum tumbuh signifikan karena masih jauh dari target BoJ.

Seperti yang diketahui, sejauh ini logam mulia emas sudah anjlok lebih dari 200 Dolar AS per ons dari level tertinggi pasca terpilihnya Presiden AS ke-45 Donald Trump. Pada kuartal terakhir tahun ini saja, emas telah menurun sebesar 14 persen karena terbebani kuatnya Dolar AS serta keputusan the Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga-nya. Selain itu, permintaan logam mulia emas di India juga tetap rendah meski harga emas mengalami penurunan ke level terendahnya 10 bulan. Sementara itu, permintaan emas negara China turut tergelincir dari level tinggi tiga tahun mengingat investor tidak masuk pasar karena liburan panjang natal serta tahun baru.

Informasi
Selama sepekan mendatang, meskipun volume trading dan likuiditas pasar diprediksi melemah, para pelaku pasar tetap menunggu rilis beberapa data ekonomi penting AS seperti Consumer Confidence, Pending home sales, serta Jobless Claims. Data-data tersebut dianggap penting untuk mengetahui indikasi lebih lanjut terkait dengan kekuatan ekonomi AS dan sinyal kebijakan moneter the Fed.
(Visited 32 times, 1 visits today)