Harga Minyak Bimbang Setelah Qatar Tolak Ultimatum Saudi

In Berita Fundamental Ekonomi by Kia Pratiwi

Reli harga minyak terhenti sebelum mencapai ambang $50 per barel pada sesi perdagangan Rabu pagi ini (5/Juli) setelah Qatar menyatakan penolakan atas tuduhan dan tuntutan yang diajukan Arab Saudi dan sekutunya. Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan ketegangan di Timur Tengah ini, sembari menantikan data stok minyak mentah Amerika Serikat terbaru.

Hadapi Resisten Teknikal Penting


Harga minyak mentah Brent ditutup turun 7 sen pada $49.61 per barel tadi malam, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 1 sen ke $47.08; setelah sebelumnya sempat reli di dua hari kerja pertama bulan Juli berkat munculnya tanda-tanda penurunan produksi minyak AS. Saat berita ditulis pagi ini, Brent lengser lagi ke $49.58, sedangkan WTI masih berada di kisaran yang sama. Menurut para trader yang diwawancarai Reuters, Brent menghadapi resisten teknikal penting pada level harga $50, sekaligus sejumlah pergeseran outlook fundamental. Pasar masih menyimpan keraguan atas langkah-langkah OPEC dalam membatasi output minyaknya, tetapi laju produksi minyak AS disinyalir telah melambat.

Harga minyak terpantau meningkat dalam beberapa hari terakhir, meski produksi minyak OPEC menyentuh level tinggi tahun ini pada bulan Juni, sebesar 32.72 juta barel per hari (bph). Upaya OPEC untuk menyeimbangkan limpahan surplus di pasar minyak global menghadapi rintangan karena Libya dan Nigeria terus menggenjot suplai. Kedua negara tersebut merupakan anggota OPEC, tetapi tidak dikenai pembatasan kuota. Perkembangan terbaru konflik diplomatik Qatar pun mengindikasikan ketidakpastian baru.

Saudi Bisa Kirim Sanksi Lagi


Doha menepis tuduhan Arab Saudi dan sekutu bahwa pihaknya mendukung terorisme dalam hubungannya dengan Muslim Brotherhood dan Iran, serta menyarankan agar dilakukan diskusi untuk mencapai solusi yang bisa diterima bersama. Tanggapan ini dikirim via Kuwait sebagai mediator. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain, akan menggelar rapat di Kairo hari Rabu ini untuk memutuskan respon mereka atas tanggapan Qatar, serta apakah mereka terus menerapkan sanksi atau menambahnya.

Sebelumnya, pemutusan hubungan diplomatik dan jalur transportasi antara Qatar dengan keempat negara terebut di awal Juni telah memunculkan sejumlah kerisauan. Diantaranya, kemungkinan Qatar dan Iran akan mangkir dari jatah kuota yang telah ditentukan, serta terancamnya jalur distribusi energi vital di kawasan Timur Tengah. Pada hari Selasa, Qatar telah mengumumkan menggenjot kapasitas produksi LNG (Liquefied Natural Gas) sebesar 30 persen. Langkah tersebut memperparah melimpahnya surplus LNG dunia. Hal serupa bisa terjadi juga di pasar minyak. Di sisi lain, Arab Saudi dan sekutu dikhawatirkan akan ganti mengultimatum partner dagangnya untuk bekerjasama dengan mereka saja, atau dengan Qatar saja.

Reza Mostafavi Tabatabaei, Presiden ENEXD, sebuah perusahaan perangkat migas yang berpusat di London, mengatakan, “Qatar membutuhkan dukungan Iran sekarang, lebih dari sebelumnya. Saya tak percaya Qatar akan bisa meningkatkan produksi tanpa kerjasama Iran, jika dalam jangka panjang situasi tetap sama seperti sekarang. (Juga) perusahaan-perusahaan (minyak) mayor bisa diminta untuk memilih antara bekerja di Qatar atau Saudi/UEA/Mesir, atau akan ada sanksi atas mereka. Ketegangan di Timur Tengah ini masih menjadi sorotan pasar, sembari menunggu jadwal rilis laporan stok minyak mentah AS mingguan. American Petroleum Institute (API) dijadwalkan merilis laporannya pada Rabu malam nanti, sementara Energy Information Administration (EIA) akan mempublikasikan data resmi versi pemerintah pada Kamis malam.

(Visited 23 times, 1 visits today)