Harga Minyak Goyah Digoyang Ketegangan Timur Tengah

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Harga Minyak terpantau naik lagi tadi malam, tetapi Brent maupun WTI menurun 0.11% pada awal sesi perdagangan Selasa pagi tadi (14/November), masing-masing ke level $63.12 dan $56.71 per barel. Proxy War yang terus berlangsung antara Arab Saudi dan Iran, masih menyangga harga minyak. Proyeksi OPEC terbaru pun mengekspektasikan permintaan (demand) yang lebih tinggi tahun depan. Namun, sejumlah analis meragukan keberlanjutan reli harga kali ini.

Dalam laporan bulanan terbarunya, OPEC meningkatkan estimasi permintaan minyak yang akan diterimanya pada tahun 2018 sebesar 400,000 barel per hari (bph) ke angka total 33.4 juta bph. Meski demikian, para pejabat tinggi OPEC dan Rusia masih menunjukkan keinginan untuk membatasi produksi.Hari Senin kemarin, Sekertaris Jenderal Mohammad Barkindo mengatakan dalam sebuah pidato di Abu Dhabi bahwa pembatasan produksi merupakan "satu-satunya opsi" untuk menghadapi limpahan surplus di pasar global. Dengan ini, ia mengiaskan komitmen OPEC untuk membahas ekstensi atas kesepakatan pemangkasan output mereka pada rapat formal berikutnya tanggal 30 November mendatang.

Harga Minyak sudah naik sekitar 20 persen sejak awal September, seiring makin kuatnya spekulasi bahwa OPEC akan memperpanjang masa pemangkasan output hingga lebih dari deadline sebelumnya pada Maret 2018. Namun, harga juga ditunjang oleh berbagai gejolak di kawasan Timur Tengah. Mulai dari upaya kemerdekaan Kurdistan di Irak; disorotinya manuver-manuver Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman, dalam mengokohkan posisinya; hingga makin kusutnya proxy war antara Saudi dan Iran yang kini melibatkan pula Libanon.

Pada akhir pekan, pipa minyak antara Arab Saudi dan Bahrain sempat dilanda kebakaran. Menyusul peristiwa tersebut, Menteri Luar Negeri Bahrain, Khalid Al-Khalifa, bercuit di Twitter, "Upaya untuk membom pipa minyak Saudi-Bahrain adalah eskalasi Iran berbahaya yang bertujuan untuk menakuti masyarakat dan melukai industri minyak global."

Merespon tuduhan Al-Khalifa, juru bicara Iran membalas dengan mengatakan, Bahrain "perlu tahu bahwa era kebohongan dan saling tuding kekanak-kanakan telah berakhir." Pipa minyak yang menjadi pokok pembicaraan telah dapat beroperasi normal kembali beberapa saat setelah kebakaran dipadamkan. Namun, itu hanyalah satu dari banyak insiden kecil yang bermunculan di seluruh Timur Tengah; khususnya setelah Saudi mencegat misil Iran yang diluncurkan milisi Houthi dari Yaman, sekitar seminggu yang lalu. Ketegangan ini pun menjulur ke Asia. Data pengiriman Desember dari Irak, Iran, dan Kuwait, --yang dikutip Bloomberg tadi pagi-- menunjukkan bahwa mereka pasang harga di bawah harga yang ditetapkan Arab Saudi bagi pabrik-pabrik pengilangan Asia.

Apabila eskalasi konflik di Timur Tengah benar-benar meletus menjadi konflik bersenjata, maka harga minyak dapat meroket karenanya. Akan tetapi, jika ketegangan justru mereda, maka kenaikan harga menjadi tidak terjamin lagi. "Tanpa bara ini terus menerus dikipasi, harga (minyak) rawan turun lagi," kata John Kilduff dari Again Capital LLC New York, sebagaimana disampaikannya pada Bloomberg.

Laporan dari Associated Press (AP) pagi ini juga menyebutkan bahwa banyak pakar mengekspektasikan ketegangan di Timur Tengah hanya akan mendorong harga minyak naik untuk sementara saja, kecuali konflik langsung pecah antara Arab Saudi dan Iran. Pasalnya, meski dalam beberapa waktu lalu produksi minyak shale AS agak tersendat, tetapi ke depan bisa tergenjot lagi.

Dalam laporan pekanan Baker Hughes yang rilis Sabtu, nampak bahwa oil drilling rigs di Amerika Serikat bertambah dari 729 ke 738. Para Analis dari Commerzbank yang dikutip AP mengungkapkan bahwa aktivitas pengeboran di AS biasanya naik dalam kurun waktu sekitar empat bulan setelah harga minyak mengalami peningkatan. Jadi, dapat disimpulkan kalau kenaikan aktivitas pengeboran minggu lalu merupakan awal dari tren baru. (Source Seputarforex.com)
(Visited 28 times, 1 visits today)