Harga Minyak Lesu Nantikan Rapat OPEC Minggu Depan

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Harga Minyak tipe Brent terpantau mandek di kisaran $92.24 per barel pada Selasa pagi tadi (21/November), sementara WTI berupaya bertahan sekitar $56.44 per barel di tengah berbagai ketidakpastian pasar global. Pelaku pasar terguncang oleh kabar kegagalan Kanselir Angela Merkel untuk membangun koalisi tiga partai yang memicu kekhawatiran mengenai masa depan Jerman, di samping juga masih mengkhawatirkan apakah ekstensi pemangkasan output akan diumumkan oleh OPEC pada rapatnya minggu depan.

Jerman merupakan negara terbesar dalam kesatuan ekonomi-politik yang menggunakan mata uang Euro, sekaligus menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Kegagalan Kanselir Angela Merkel untuk membentuk koalisi baru mengakibatkannya harus memilih antara membangun pemerintahan minoritas (kabinet yang tidak didukung oleh mayoritas anggota Parlemen), atau meminta penyelenggaraan pemilu ulang. Kedua pilihan tersebut sama-sama mengindikasikan instabilitas dalam pemerintahan Jerman.

Tak ada imbas langsung dari krisis politik Jerman tersebut terhadap harga Minyak. Namun, goyahnya jantung salah satu ekonomi kawakan dunia, membuat Dolar AS menguat seketika. Penguatan Dolar AS yang merupakan mata uang utama dalam perdagangan dunia, berdampak negatif bagi pasar komoditas karena harganya menjadi lebih mahal bagi pengguna mata uang berbeda. "Secara politis, di seluruh dunia, ada banyak hal terjadi," kata Bill O'Grady, pimpinan pakar strategi pasar di Confluence Investment Management, sebagaimana disampaikannya pada Bloomberg, "Ada potensi limpahan pasokan di luar sana dan satu-satunya yang menghindarkannya dari pasar saat ini adalah disiplin OPEC.'

Pekan lalu, Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih, mengatakan bahwa Arab Saudi sudah berdiskusi panjang lebar dengan Rusia. Katanya, OPEC berupaya untuk memastikan bahwa apabila strategi pembatasan output saat ini diakhiri, maka itu akan dilakukan secara bertahap. Selain itu, Al-Falih juga mengungkapkan bahwa inventori minyak global yang saat ini berada pada level tinggi, kemungkinan belum akan turun ke level rata-rata saat kesepakatan pemangkasan output berakhir pada Maret 2018. Hal ini menggarisbawahi pentingnya perkara ekstensi hingga melampaui Maret 2018 untuk didiskusikan pada rapat OPEC berikutnya.

Sejauh ini, mayoritas anggota OPEC nampaknya cenderung setuju untuk melakukan ekstensi. Namun, Rusia sebagai key decision maker dari kalangan negara-negara produsen minyak Non-OPEC, telah mengekspresikan keraguannya. Kabar terakhir menyebutkan, Rusia menilai terlalu dini bila ekstensi pemangkasan output diumumkan pada rapat OPEC tanggal 30 November mendatang.Terlepas dari ketidakpastian itu, sejumlah analis tetap optimis. Tamas Varga, analis dari PVM Oil Associates Ltd mengatakan, "Banyak yang meyakini OPEC, bersama 10 negara Non-OPEC, akan melakukan rollover (pembatasan) produksi mereka hingga sepanjang tahun 2018."

Mustafa Ansari dari Arab Petroleum Investments Corp berpendapat senada. Katanya, "Kami mengekspektasikan ekstensi kesepakatan itu. Itulah konsensus pasar secara umum. OPEC tahu bahwa mereka perlu terus melakukan apa yang mereka lakukan, karena targetnya belum tercapai."
(Visited 13 times, 1 visits today)