Harga Minyak Menanjak, Sambut Tiga Badai Susulan Harvey

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Harga minyak bumi terus meningkat sejak hari Selasa hingga Jumat pagi tadi (8/September), setelah diketahui akan ada tiga badai lagi menerjang Amerika Serikat seusai Badai Harvey melumpuhkan Texas minggu lalu. Saat berita dirilis, Brent berada di kisaran $54.67 per barel, tertinggi sejak April. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) cenderung flat di kisaran $49.20 per barel yang telah beberapa kali dicapai sejak Agustus.

Belum lagi kerusakan akibat Badai Harvey (kategori 4) tertanggulangi, Badai Irma menerjang negara bagian Florida setelah melindas kepulauan Karibia. Badai Irma jatuh sebagai angin topan kategori 5 (Monster Hurricane), lebih buruk dari perkiraan awal, hingga memunculkan hashtag #irmageddon di media sosial.

Setelah Irma, badai Jose diperkirakan akan menguat dan berubah menjadi angin topan mayor kategori 3 pada hari Jumat ini, menurut US National Hurricane Center. Pasca Jose, Badai Katia (sementara ini masih kategori 1) juga diprediksi bakal mendarat di Teluk Meksiko yang baru kemarin diporakporandakan Harvey.

Ahli Meteorologi dari Colorado State University, Phil Klotzbach, mengatakan pada USA Today bahwa ini adalah pertama kalinya dalam tujuh tahun, tiga badai terbentuk di Atlantic Basin pada waktu bersamaan.

Saat Badai Harvey menerjang pesisir Texas minggu lalu, jantung industri migas AS sempat lumpuh. Walau sebagian besar perusahaan sudah beroperasi kembali mulai Selasa, tetapi sekitar 20% kapasitas pengilangan (2.8 juta barel per hari) masih mandek. Kini, Badai Irma telah memaksa penutupan terminal-terminal transportasi minyak di Karibia.

Meski diprediksi tak begitu mempengaruhi instalasi migas di AS, tetapi pasar terus memantau dampak yang mungkin ditimbulkan oleh ketiga badai ini ke depan. Apalagi, sebagaimana Harvey, Katia diproyeksi akan mencapai Teluk Meksiko, tempat banyak tambang minyak lepas pantai AS berlokasi.

“Permintaan (atas minyak) boleh jadi akan terus terdistorsi karena berbagai angin topan yang melintasi Karibia,” ujar Jeffrey Halley, Analis Pasar Senior di OANDA. Laporan stok minyak mentah pekanan AS terbaru dari lembaga Energy Information (EIA) menunjukkan peningkatan sebanyak 4.6 juta barel ke total 462.35 juta barel. Pasalnya, aktivitas pengilangan anjlok 16.9 poin ke total 79.7% minggu lalu, terendah sejak 2010.

Note :
Di sisi lain, menurut Reuters, produksi minyak AS juga terpukul, dengan output pekanan jatuh dari 9.5 juta bph ke 8.8 juta bph. Sedikit banyak, penutupan terminal dan pengilangan sepanjang pesisir, serta buruknya kondisi di laut Karibia, mempengaruhi pengiriman minyak masuk dan ke luar AS.
(Visited 28 times, 1 visits today)