Harga Minyak Terjungkal Akibat Outlook IEA Dan Rumor Dari Rusia

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Harga Minyak merangkak naik pada perdagangan hari Kamis pagi ini (16/November), setelah kemarin tertekan ke level terendah pekanan pasca rilis laporan bulanan International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan permintaan (demand) bakal berkurang, sementara produksi AS kembali melesat. Kabar terbaru dari Rusia pun turut membebani harga minyak. Namun, pasar masih menantikan kemungkinan diumumkannya ekstensi pemangkasan output pada rapat OPEC akhir bulan ini, sehingga penurunan harga tertanggulangi untuk sementara.

Laporan bulanan IEA yang terbit hari Selasa menunjukkan bahwa lembaga afiliasi OECD yang berpusat di Paris tersebut memangkas forecast permintaan minyak untuk tahun 2017 dan 2018, masing-masing sebesar 100,000 barel per hari (bph). Estimasi permintaan di tahun 2017 menjadi 1.5 juta bph, sedangkan estimasi untuk 2018 menurun ke 1.3 juta bph. Dengan outlook tersebut, harapan pasar agar harga minyak melangkah ke kisaran $50-60 akan sulit terwujud.

Harga Minyak kemudian menyentuh level terendah dalam nyaris dua pekan tadi malam, karena dikabarkan bahwa Rusia menilai terlalu dini bila ekstensi pemangkasan output diumumkan pada rapat OPEC tanggal 30 November mendatang. Harga Minyak WTI merosot 0.7% pada hari Rabu sejalan dengan beredarnya rumor dari sumber anonim tersebut. Saat berita ditulis pagi ini, harga Minyak Brent berada pada $61.94 per barel, sedangkan WTI pada $55.34 per barel; masing-masing sekitar 30 persen lebih rendah dibanding posisi di awal pekan.

Kesepakatan pemangkasan output antara OPEC dan beberapa negara produsen minyak Non-OPEC lainnya telah berlangsung sejak Januari 2017 dan akan kadaluwarsa pada Maret 2018. Pasar berharap dilakukan perpanjangan atau perluasan atas kesepakatan tersebut, agar harga minyak bisa stabil di level yang lebih tinggi. Apalagi karena data pemerintah AS menunjukkan produksi shale kembali mencatatkan rekor baru.

Tadi malam, US Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa stok Minyak Mentah AS dilaporkan melonjak sebanyak 1.85 juta barel pekan lalu ke angka total 459 juta barel. Demikian pula, produksi di negeri Paman Sam telah meningkat ke level tertinggi sepanjang masa di 9.65 juta bph, dengan ekspor melaju 260,000 bph, meski sempat melambat saat musim badai yang lalu.

"Kedengarannya seperti ada perbedaan pendapat antara OPEC dan (negara-negara) Non-OPEC dalam hal memberikan suatu komitmen pada akhir bulan, dan kemungkinan menendang kaleng (harga minyak) nantinya," kata Nick Holmes, analisa dari Tortoise Capital Advisors LLC, sebagaimana dikutip oleh Bloomberg. OPEC agaknya belum mampu meyakinkan Rusia, salah satu partner utamanya dalam pakta pemangkasan output, bahwa ekstensi diperlukan sekarang. Selain itu, masih banyak isu yang belum jelas, diantaranya mengenai berapa lama perpanjangan itu akan dilakukan serta apakah akan ada tambahan besaran pemangkasan. Terlepas dari itu, beberapa analis lain meyakini bahwa OPEC akan berupaya keras untuk mendongkrak harga minyak dalam waktu dekat, meski bukan dengan ekstensi pakta tersebut. Shane Chanel dari ASR Wealth Advisers, mengatakan pada Reuters, "OPEC, dipimpin oleh Saudi...akan berusaha menopang pasar, terutama hingga penjualan (IPO) Aramco usai. (Contohnya) jika sanksi terhadap Iran dijalankan, maka akan mendorong harga naik signifikan."

Diantara agenda reformasi Arab Saudi yang diusung Putra Mahkota Mohammed bin Sultan, terdapat rencana go public Saudi Aramco, BUMN Minyak terbesar milik Arab Saudi, pada tahun 2018. Harga minyak yang lebih tinggi akan mendongkrak kapitalisasi pasar perusahaan menjelang IPO. (Source Seputarforex.com)
(Visited 22 times, 1 visits today)