Harga Minyak Tunggu Rapat OPEC Di Level Tertinggi 2 Tahun

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Pada Jumat pagi tadi (24/November), harga Minyak mejeng di level tertinggi dua tahun, meski pasar berjangka cenderung sepi karena liburan Thanksgiving di Amerika Serikat. Fokus pasar tertuju pada agenda Rapat OPEC yang akan digelar pada 30 November mendatang, dimana kartel tersebut diharapkan mengumumkan ekstensi atas kesepakatan pemangkasan output.

Kenaikan harga Minyak terbesar dialami oleh US Crude (West Texas Intermediate) dengan kenaikan setinggi nyaris 50 sen ke kisaran $58.43 saat berita ini ditulis. Sementara itu, harga Minyak tipe Brent masih bertahan di kisaran $63.42 per barel. Keduanya berada pada posisi tertinggi sejak Juli 2015. Posisi harga Minyak saat ini terutama ditunjang oleh antisipasi pasar menjelang rapat OPEC pekan depan di Wina, Austria, karena beberapa rilis data aktivitas sektor migas AS baru-baru ini hanya menunjuk pada kondisi yang mixed.

Laporan stok minyak mingguan di AS versi API yang dirilis pada hari Rabu pagi menyebutkan ada penurunan sebesar 6.34 juta barel. Data tersebut diamini oleh laporan stok versi Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu malam. EIA, sebuah badan di bawah Departemen Energi AS, menyatakan bahwa inventori mengalami penurunan sebesar 1.86 juta barel dalam sepekan, lebih dalam dibanding estimasi -1.55 juta barel yang dipatok sebelumnya. Keduanya merupakan kabar yang cukup positif bagi harga Minyak, jika laporan berikutnya tetap menunjukkan reduksi inventori dan aktivitas pengeboran. Namun demikian, jumlah oil drilling rigs di negeri Paman Sam melonjak cukup tinggi. Laporan pekanan Baker Hughes yang dirilis Kamis pagi menunjukkan kenaikan dari 738 ke 747.

Berdasarkan pemberitaan di media-media internasional, diketahui ada indikasi kuat kalau dalam rapat 30 November mendatang, OPEC dan sekutunya benar-benar akan menyepakati ekstensi pembatasan output hingga melampaui deadline Maret 2018 yang telah ditentukan sebelumnya. Walaupun, sempat ada rumor kalau Rusia menilai rencana ekstensi tersebut terlalu dini.

Sebagaimana diketahui, pakta pemangkasan output sebesar 1.8 juta barel per hari (bph) yang digawangi oleh OPEC dan beberapa negara produsen minyak Non-OPEC telah diberlakukan mulai Januari 2017 dan akan terus berlangsung hingga Maret 2018. Namun, setelah melihat lambatnya penyusutan inventories global serta sulitnya kenaikan harga minyak, Arab Saudi mengajak untuk memperluas cakupan pakta tersebut. Diantara opsi yang didiskusikan adalah memperpanjang masa pemberlakuan, meningkatkan besaran pemangkasan, serta menerapkan batasan kuota juga atas negara-negara OPEC yang sebelumnya dikecualikan dari kesepakatan.

Topik-topik tersebut diperkirakan akan dibahas pada rapat OPEC. Namun, sebuah draft agenda rapat yang dilihat Reuters menunjukkan bahwa keputusan diekspektasikan akan tercapai dalam 3 jam saja; sebuah situasi yang langka karena pertemuan OPEC biasanya dapat berlangsung hingga dini hari akibat sengitnya perdebatan. Hal ini dapat diterjemahkan sebagai perkiraan kalau negosiasi sudah dilakukan di luar forum, sehingga keputusan bisa diambil dengan mulus.

Pada 30 November, rapat tertutup antara Sekjen OPEC dan para Menteri dijadwalkan dimulai pada 11:00 GMT; diikuti oleh pertemuan bersama antara OPEC, para Menteri dari negara-negara Non-OPEC, serta delegasi lainnya, pada 14:00 GMT. Setelah rapat gabungan usai, sebuah konferensi pers akan diadakan oleh Presiden Konferensi OPEC, Sekjen OPEC, dan Menteri Energi Rusia, untuk mengumumkan keputusan apa yang tercapai dalam perundingan mereka.
(Visited 10 times, 1 visits today)