Hoax Tentang Rupiah Baru: Benarkah Tak Laku Di Luar Negeri?

In Berita Fundamental Ekonomi by Kia Pratiwi

Tak lama setelah uang Rupiah baru (emisi tahun 2016) beredar, langsung merebak bermacam-macam kabar tidak sedap. Mulai dari luntur ketika dicuci, tidak sah karena bukan diterbitkan Bank Indonesia, hingga tidak laku di luar negeri. Karena kabar bombastis, maka netizen langsung saja menyebarluaskannya. Padahal, semua itu cuma hoax.

Berikut Berita Hoax Dan Faktanya mengenai Uang Rupiah Baru


Faktanya:

Demi penelitian, sebuah Tim mencoba mengucuri uang Rupiah baru lembar 50,000 dan 5,000 dengan air keran. Hasilnya, tak ada yang luntur. Setelah kering, penampilannya kembali persis seperti semula. Justru, lembaran Rupiah baru lebih cepat kering dibanding versi lama.

Hoax tentang Rupiah baru yang satu ini sepertinya dimaksudkan untuk memprovokasi masyarakat agar menolaknya, sementara peredaran masih terbatas. Sedangkan bagi yang sudah mendapatkan, maka akan mengetahui bahwa uang Rupiah baru sama sekali tidak luntur jika kena basah. Jika luntur, maka bisa diduga itu uang Rupiah palsu.

Faktanya:

Uang Rupiah baru ini sudah sesuai dengan peraturan dalam Undang-Undang Mata Uang Nomor 7 Tahun 2011 yang diteken di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Karakteristik “Uang NKRI” memang berbeda dengan Rupiah emisi lama. Termasuk diantaranya:

Ada tulisan frase “Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Memuat tanda tangan Gubernur BI dan Menteri Keuangan.
Sedangkan terkait dengan jaminan (kolateral), uang Rupiah baru sejatinya tak berbeda dengan yang lama. Semua uang kertas yang diterbitkan di Indonesia, pada dasarnya termasuk Fiduciary Money (uang yang memiliki nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsiknya). Dan perlu diketahui, sejak tamatnya perjanjian Bretton Woods, negara-negara di dunia tak merasa wajib memberikan kolateral dalam nilai setimbang dengan uang Fiducier yang diterbitkan.

Apakah ini artinya negara bisa bebas mencetak uang berapa saja? Tidak. Setiap negara memiliki kewajiban untuk menjaga nilai uang masing-masing, demi kesehatan ekonomi negara. Apabila negara lepas kendali dan mencetak uang sesukanya, maka yang akan terjadi adalah chaos dan resesi seperti di Zimbabwe.

Faktanya:

Jika ada kejadian warga negara Indonesia di luar negeri sulit menukar Rupiah di money changer luar negeri, maka kemungkinan karena Money Changer di luar negeri tersebut memang tidak melayani penukaran rupiah, atau sosialisasinya belum sampai di sana.

Menurut Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, sebagaimana dikutip dari Antara, “Sama saja dengan misalkan uang Argentina, uang Peru, uang Kanada, bisa tidak ditukar ke money changer di Jakarta ? Ya tidak bisa…kenapa? Soalnya ya money changer tidak membutuhkan itu.”

Karena kebutuhan akan mata uang-mata uang tersebut di Indonesia sangatlah rendah, dan Money Changer maupun bank takkan menyediakan stok untuk melayani penukaran uang yang tidak likuid. Hal serupa berlaku bagi Rupiah di mancanegara.

Money Changer bukanlah pelayan masyarakat semacam PNS, melainkan bisnis. Dalam keputusan bisnis rasional, adalah sia-sia untuk menerima ataupun menyediakan barang yang jarang pembelinya. Kata “barang” di sini dapat dipergantikan dengan “mata uang”.

Boleh jadi, hanya satu saja mata uang yang diterima di mana-mana, yaitu Dolar AS (dengan pengecualian wilayah anti-AS seperti Korut). Itulah mengapa, bagi Anda yang akan bepergian ke luar negeri, sebaiknya tukarkan dulu Rupiah Anda dengan mata uang negara tujuan atau dengan Dolar AS. Dan sebaliknya, ketika akan pulang kembali ke Indonesia, tukarkan semua uang asal negara yang Anda kunjungi menjadi Dolar AS (emisi terbaru, wujud mulus). Jika sudah jadi Dolar, maka lebih mudah me-rupiah-kannya. Semua Money Changer Berizin dan bank di Indonesia yang melayani penukaran valas, mau menerima uang kertas Dolar AS, meski biasanya ada syarat kondisi fisik tertentu.

(Visited 111 times, 1 visits today)