Kesuksesan OPEC Naikkan Harga Minyak Bergantung Pada AS

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Pergerakan harga minyak masih lesu pada perdagangan hari Senin ini (29/5), meski sudah rebound dari penurunan drastis pasca pertemuan OPEC di Wina. Kontrak berjangka Brent diperdagangkan di kisaran $52.03, melorot 12 sen dari harga penutupan sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) tetap terpuruk di bawah $50 per barel.

Minggu lalu, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sejumlah negara produsen minyak non-OPEC lainnya setuju memperpanjang masa kesepakatan pemangkasan output hingga Maret 2018. Namun, mereka tak menambah besaran pemangkasan; hal mana bertolak belakang dengan ekspektasi sebagian pelaku pasar. Kekecewaan tersebut berimbas pada anjloknya harga minyak Brent dan WTI hingga nyaris lima persen.

Terlepas dari terus berlanjutnya upaya OPEC dalam menyusutkan limpahan surplus dalam enam bulan terakhir, harga minyak belum jauh beranjak dari ambang $50 per barel. Pasalnya, produksi minyak shale Amerika Serikat terus membubung. Menurut Reuters, produksi negeri Paman Sam telah meroket sekitar 10 persen sejak pertengahan tahun 2016 hingga 9.3 juta bph, terus mendekati level output produsen minyak terbesar dunia, Rusia dan Arab Saudi. Laporan pekanan Baker Hughes mengenai jumlah sumur pengeboran (oil drilling rigs) di AS pun menunjukkan peningkatan selama 19 minggu berturut-turut. Berdasarkan data yang dirilis akhir pekan lalu, rig counts sudah mencapai 722, tertinggi sejak April 2015.

Informasi
Hari ini, pasar berjangka AS tutup dalam rangka Memorial Day. Namun, data inventori minyak mentah AS versi American Petroleum Institute (API) dijadwalkan rilis pada hari Rabu, disusul oleh laporan Energy Information Administration (EIA) pada hari Kamis. Keduanya akan terus dipantau oleh pelaku pasar, sementara menantikan rapat OPEC berikutnya pada bulan November.
(Visited 14 times, 1 visits today)