Konflik India-China Membara, Harga Emas Ikut Bergelora

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Harga emas bertahan di level tinggi pada sesi perdagangan Jumat ini (18/Agustus), sementara pasar memantau meningkatnya ketegangan di perbatasan India-China. Tertekannya Dolar AS akibat kasak-kusuk di White House pun ikut mendorong peningkatan minat akan aset pelindung nilai, termasuk Emas, di pasar keuangan.

Harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Desember di divisi COMEX New York naik 0.2% ke $1,292.57 per troy ons. Harga emas Antam pun menanjak ke Rp 604,000 per gram dari Rp 598,000 di hari Rabu, dengan harga buyback dipatok naik sebanyak Rp7,000 ke Rp540,000 per gram.

Sekitar tahun 1962, India dan China pernah terlibat peperangan sengit di perbatasan mereka dalam rangka perebutan wilayah. Tahun ini, perseteruan antara kedua negara konsumen emas terbesar dunia tersebut kembali tersulut. Konflik bermula ketika dua bulan lalu, tentara perbatasan India mengkonfrontasi tentara China yang membangun jalan raya di Dataran Tinggi Doklam, sebuah lokasi strategis antara Tibet, India, dan Bhutan, yang diklaim sebagai milik Bhutan dan China.

Dua hari lalu, konflik antara kedua angkatan bersenjata akhirnya tak terhindarkan lagi. Sebuah sumber di New Delhi yang diwawancarai Reuters mengatakan, tentara India bergerak untuk menggagalkan langkah tentara-tentara China untuk menyusup ke wilayah teritori India di Ladakh, dekat Danau Pangong. Para tentara China tersebut kabarnya membawa tongkat besi dan batu. Hasilnya, kedua belah pihak menderita luka minor.

Pihak China belum menyampaikan komentar apapun mengenai kabar tersebut. Akan tetapi, media propaganda pemerintah kemarin merilis video “7 Sins of India” yang kemudian dituduh rasis dan membakar kemarahan warganet asal India. Sejak dua bulan lalu, China telah meminta India untuk sepenuhnya mundur dari kawasan Doklam. India sendiri mengaku tak punya pilihan selain mengerahkan angkatan bersenjatanya, karena aktivitas militer China dianggap “terlalu dekat” dan mengancam keamanan wilayah timur laut India. Tak pelak, merebak rumor bahwa kedua belah pihak tengah bersiap-siap menghadapi “full-scale war”.

Di samping karena memanasnya konflik India-China tersebut, harga emas juga meningkat akibat tingginya aksi penghindaran risiko yang bersumber dari keresahan politik di White House. Pada hari Kamis, setelah Trump membubarkan dua dewan penasehat bisnis pemerintah, merebak rumor bahwa Penasehat Bisnis White House, Gary Cohn, akan mengundurkan diri. Rumor itu belakangan dibantah oleh jubir kepresidenan, tetapi telanjur memicu aksi jual di bursa saham Amerika Serikat dan meningkatkan permintaan pada aset safe haven.

Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve kian terkikis. Notulen rapat Fed bulan Juli mengungkapkan bahwa para pejabat moneter AS berselisih pendapat mengenai apakah akan menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini atau tidak, karena laju inflasi sedang mengalami perlambatan. Harga emas sangat sensitif menanggapi probabilitas ini, karena kenaikan suku bunga AS akan mengurangi daya tarik bullion sebagai aset dengan imbal hasil tak berwujud bunga.

(Visited 16 times, 1 visits today)