Korelasi Harga Minyak Dan Indeks Dolar Jadi Sorotan

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Harga minyak kembali melandai pada perdagangan hari Rabu ini (15/2), tetapi masih terjebak dalam kondisi ranging di kisaran lima dolar yang telah dihuninya sejak Desember. Pasalnya, peningkatan suplai berkat pulihnya produksi shale di Amerika Serikat terus membayangi pemangkasan output oleh OPEC dan negara produsen minyak lainnya. Di saat yang sama, korelasi antara harga minyak dan indeks Dolar mendadak menjadi searah.

Minyak

Harga minyak Brent sempat naik ke $56.46 tadi malam, tetapi kini sudah menurun lagi ke $55.60 per barel. Demikian pula West Texas Intermediate (WTI) melorot dari $53.38 ke $52.80 per barel. Negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan beberapa produsen minyak lain termasuk Rusia telah sepakat memangkas output sebanyak nyaris 1.8 juta barel per hari (bph) selama paruh pertama 2017. Dalam rangka mengendalikan limpahan surplus minyak global, pelaksanaan kesepakatan tersebut per Januari sudah mencapai 80-90 persen. Akan tetapi, pasar berjangka nampaknya sudah memperhitungkan pemangkasan tersebut, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang bagi harga minyak untuk naik melampaui kisaran range-nya saat ini. “Akan diperlukan gangguan suplai atau pemangkasan serius untuk menggerakkannya (harga minyak),” kata Tariq Zahir, anggota manajemen Tyche Capital New York pada Reuters, “Di bulan pertama, tentu saja, OPEC akan melakukan sebaik yang mereka bisa, tetapi setelah itu, mari kita lihat apa yang akan terjadi di bulan kedua dan ketiga.”

Informasi
Sementara itu, produksi minyak di kawasan Amerika Serikat terus meningkat dan membuyarkan upaya negara-negara produsen lainnya. Data pemerintah yang dipublikasikan hari Senin menunjukkan bahwa produksi minyak shale AS untuk periode Maret 2017, diekspektasikan melesat ke 4.87 juta bph, tertinggi sejak Mei tahun lalu. Tadi malam, inventori minyak mentah AS pekanan versi American Petroleum Institute (API) pun dilaporkan kembali melonjak sebanyak 9.94 juta barel.

Di luar pasar komoditas, peningkatan korelasi antara harga minyak mentah berjangka dan indeks Dolar AS (DXY) menarik perhatian pasar. Harga minyak dan nilai Dolar biasanya memiliki hubungan terbalik, karena kuatnya mata uang ini akan membuat komoditas menjadi lebih mahal bagi negara pengguna mata uang berbeda, dan berpotensi menekan permintaan. Sebaliknya, Dolar AS yang lebih lemah lazimnya mendukung kenaikan harga minyak karena impor BBM jadi lebih murah. Akan tetapi, data terkini dari Thomson Reuters Eikon menunjukkan korelasi terbalik tersebut kini terhenti, dengan hubungan searah antara Dolar dan harga acuan Brent berada pada posisi terkuat sejak tahun 2005. Penyebabnya disinyalir bersumber dari peningkatan harga minyak sejalan dengan pemangkasan produksi selagi Dolar menguat didorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Catatan
Apabila penguatan Dolar dan harga minyak terus berjalan selaras, para trader yang diwawancarai Reuters memandang hal itu bisa jadi penggerak inflasi di negeri Paman Sam ke level lebih tinggi. Kenaikan inflasi pada gilirannya bakal melancarkan jalan untuk kenaikan suku bunga yang mendukung penguatan Dolar lebih lanjut.
(Visited 41 times, 1 visits today)