Kuatnya Dolar Dan Sektor Ekuitas Redupkan Harga Emas Lagi

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Harga emas di sesi Asia pada hari Selasa (02/05) terpantau flat setelah ambruk hampir satu persen menuju ke level terendahnya dalam tiga pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh adanya penguatan mata uang Dolar serta sektor ekuitas global. Penurunan harga emas terjadi sejalan dengan bursa saham Asia hari ini yang meninggi, didorong oleh kenaikan optimisme investor terhadap industri teknologi dan kekhawatiran sebagian besar pelaku pasar tentang Korea Utara menurun.
EmasSaat berita ini diturunkan, harga emas berjangka pada Comex New York Mercantile Exchange untuk pengiriman bulan Juni diperdagangkan di level 1,257 Dolar AS per troy ons dan harga emas spot di kisaran level harga 1,256 Dolar AS. Sedangkan harga emas batangan pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk turut menurun ke kisaran harga Rp 587,000 dan harga buy back dipatok Rp 533,000 per gram.

Selama sesi perdagangan hari Senin kemarin, harga emas sebenarnya sempat mengalami kenaikan tipis setelah rilis data ekonomi AS. Data Construction Spending AS bulan Maret yang secara tak terprediksi turun dari level tinggi, yaitu dari 1.8 persen menjadi -0.2 persen. Sedangkan Indeks PMI Manufaktur melemah ke level terendah sejak bulan Oktober tahun lalu dari sebelumnya 57.2 menjadi 54.8.

Namun, harga emas kembali terbebani oleh kuatnya Dolar AS ke level tertinggi satu bulan terhadap Yen karena imbal hasil obligasi meninggi. Hal ini disebabkan oleh komentar Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin sehubungan dengan kemungkinan penerbitan obligasi jangka panjang. Mnuchin kemarin juga menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar tiga persen bisa dicapai dalam dua tahun ke depan sebagai dampak dari kebijakan pajak Donald Trump.

Note:
“Jika kondisi perekonomian AS bertumbuh positif, maka hal ini akan membuat sebagian besar pembuat kebijakan The Fed cenderung hawkish, sehingga aset logam mulia seperti emas akan bearish,” ucap Tyler Richey, Co-Editor Sevens Report.

Perlu diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi AS yang menguat bisa jadi akan membuat bank sentral AS melakukan pengetatan kebijakan moneter-nya dan menaikkan tingkat suku bunga (Rate Hike). Kenaikan suku bunga ini selanjutnya bisa menaikkan mata uang Dolar dan menyebabkan logam mulia emas tidak menarik bagi para investor.

Para pelaku pasar saat ini tengah menunggu pengumuman tingkat suku bunga AS dan pernyataan the Fed pada hari Kamis nanti. Fokus sebagian besar investor adalah pada pandangan The Fed terkait dengan proyeksi rate hike tahun 2017 dan tahun depan, karena the Fed diperkirakan tidak akan menaikkan tingkat suku bunga-nya dalam pertemuannya pekan ini. Menurut Fed Watch Tool milik CME Group, peluang the Fed tidak mengubah tingkat suku bunga AS dalam pertemuan bulan Mei ini sangat tinggi yakni sebesar 95.2 persen.

(Visited 16 times, 1 visits today)