Mimpi Sukarno Jadikan Palangka Raya Ibu Kota RI dan Jaring Laba-laba

In Berita Terhangat dan Terkini by Kia Pratiwi

Presiden pertama Indonesia, Sukarno, memiliki sejarah yang tidak biasa dengan kota Palangka Raya. Kota yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah ini diresmikan langsung oleh Sukarno pada 1957, dengan memancangkan tiang pertama sebagai awal pembangunan kota Palangka Raya, yang terletak di dekat Sungai Kahayan. Saat itu, Sukarno sudah mendeklarasikan keinginannya membuat Palangka Raya sebagai ibu kota Republik, menggantikan Jakarta. Hal tersebut direalisasikannya dalam masterplan pembangunan kota Palangka Raya yang ia buat sendiri.

Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya


Pakar tata kota dan Penulis buku ‘Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya’, Wijanarka, menjelaskan Sukarno mendesain kota Palangka Raya dengan membuat satu poros atau sumbu yang sejajar dengan tiang pancang pembangunan kota Palangka Raya pertama kali. Poros tersebut adalah bundaran besar, yang tegak lurus posisinya dengan tiang pancang pertama kali pembangunan kota Palangka Raya atau yang kini dikenal dengan nama tugu Sukarno. Secara berderetan antara tugu, gedung DPRD, istana gubernur, dan bundaran besar dirancang oleh Sukarno sebagai satu poros yang menyerupai kota-kota besar di negara lainnya di dunia.

Di Washington DC juga ada porosnya, di Canberra juga ada porosnya, di New Delhi juga ada porosnya. Jadi itu merupakan tanda-tanda bahwa memang embrio ini sudah disiapkan (oleh Bung Karno). Apa lagi dengan konsepnya tadi yang menyatakan bahwa kota ini adalah kota yang baru dan modern yang luasnya itu 20 x 60 km. Selain itu konsep awal penataan kota Palangka Raya yang dibentuk Sukarno juga membentuk seperti jaring laba-laba yang berporos pada bundaran besar. Dari bundaran besar tersebut, Sukarno mendesain 8 silang yang menyebar ke 8 arah mata angin.

Angka 8 sendiri diperkirakan dipilih Sukarno mengacu pada jumlah pulau besar yang ada di Indonesia, yakni Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Berkaitan dengan rencana-rencana dijadikan Palangka Raya ibu kota, silang 8 mengartikan juga bahwa karena dulu Palangka Raya merupakan tengah-tengahnya NKRI, jadi dari Palangka Raya inilah maka pembangunan diharapkan merata ke 8 silang itu, ke seluruh penjuru NKRI,” jelas Wijanarka. Hanya saja, dalam perkembangannya, kedelapan silang jaring-jaring laba-laba tersebut tidak diteruskan, dan hanya menyisakan bundaran besar dan beberapa tata letak kota lainnya yang dirancang Sukarno langsung. Tata ruang kotanya sudah mengalami perubahan, tapi secara embrio kota masih bisa dilihat dari sumbu-sumbu ini, ada rumah jabatan gubernur, ada bundaran, itu semua satu poros,” tuturnya.

Mimpi Sukarno menjadikan Palangka Raya sebagai ibu kota Indonesia menggantikan Jakarta semakin jelas, saat poros dan sumbu yang ia desain, apabila ditarik garis lurus terus ke arah barat daya, maka sumbu ini akan sampai ke Kota Jakarta. Bahkan diduga tepat di Istana Negara.

“Jadi poros ini (tugu Sukarno, istana dan bundaran besar) mengandung makna bahwa ini adalah (garis) imajiner yang menghubungkan antara Palangka Raya dan Kota Jakarta,” tukasnya.

(Visited 58 times, 1 visits today)