Outlook FED Rate Hike Suram, Harga Emas Menguat Lagi

In Berita Fundamental Emas by Reza Pahlevi

Kemerosotan kurs Dolar terhadap beberapa mata uang mayor kembali mendorong harga emas meningkat. Harga emas di sesi Asia hari Selasa (18/07) ini terpantau naik, terangkat oleh pelemahan data ekonomi AS dan turunnya probabilitas rate hike oleh Federal Reserve mendatang.

Saat berita ini ditulis, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Agustus pada Comex New York Mercantile Exchange menguat sebesar 0.24 persen ke level harga 1,236 Dolar AS per troy ons dan harga emas spot XAU/USD mengalami kenaikan 0.26 persen ke kisaran level harga 1,237 Dolar AS. Sedangkan harga emas batangan pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk flat di level Rp 587,000 dan harga buy back di level harga Rp 526,000.

Selama beberapa waktu lalu, harga emas mengalami tren penurunan, tapi sentimen bearish ini secara perlahan digantikan dengan sentimen bullish. Kombinasi antara testimoni Ketua the Fed Janet Yellen dan serangkaian data ekonomi AS yang melemah telah menjadi penyebab utama peningkatan harga si kuning. Selama perdagangan hari Senin kemarin, harga emas terpantau menguat ke level 1,233 Dolar AS. Kenaikan harga logam mulia emas ini merupakan tertinggi sejak bulan Juni. Emas juga telah mencatat peningkatan mingguan terbesar yakini sekitar 1.5 persen, setelah dalam lima pekan terakhir ambruk dan diperdagangkan di kisaran level rendah.

Note :
“Mendakinya harga emas di sesi hari Senin kemarin mendorong kenaikan emas di atas level penting 1,230 Dolar AS”, ujar Carsten Fritsch, seorang analis di Commerzbank. Menurut Fritsch, jika emas bisa mempertahankan posisinya di atas level tersebut, maka kemungkinan besar trend bullish Gold akan berlanjut.

Naiknya harga emas baru-baru ini dipicu oleh laporan data indeks Manufaktur New York bulan Juni yang memerah. Data yang menggambarkan kondisi bisnis di area New York tersebut menurun tajam dari level tinggi dua tahun, yakni menjadi ke level 9.80 dari sebelumnya 19.80. Laporan ini menunjukkan bahwa jumlah pesanan baru, pengiriman, inventori, dan tenaga kerja; semua mengalami penurunan. Negatifnya rilis data ekonomi ini menambah spekulasi bahwa Federal Reserve tidak akan buru-buru menaikkan tingkat suku bunga-nya dalam waktu dekat. Terbukti dengan berkurangnya probabilitas rate hike The Fed. Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada bulan September hanya delapan persen, dan untuk bulan Desember turun menjadi 40 persen dari sebelumnya 50 persen.

“Semakin lama tingkat suku bunga bertahan di kisaran nol, semakin besar pengaruh kebijakan moneter bank sentral terhadap sentimen pasar”, kata Adrian Ash, Kepala Analis di BullionVault. Adrian menilai, kondisi seperti ini akan menguntungkan bagi pergerakan harga emas karena para pembuat kebijakan bank sentral belum dapat menaikkan suku bunga-nya.

(Visited 12 times, 1 visits today)