Outlook Memburuk, Harga Minyak Terpuruk Di Terendah Tujuh Bulan

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Di penghujung sesi perdagangan hari Rabu kemarin, harga minyak anjlok nyaris 4 persen ke level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Pasar disadarkan pada situasi dimana demand lemah, tetapi produksi makin meninggi; setelah rilis laporan oil inventory Amerika Serikat serta proyeksi limpahan surplus minyak internasional. Hingga Kamis ini (15/6), harga minyak masih di bawah tekanan.

Setelah sempat naik tipis awal pekan ini, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) anjlok 3.7% ke $44.73 per barel pada penutupan perdagangan hari Rabu, terendah sejak 14 November 2016. Brent juga terpuruk, melorot 3.5% dan ditutup di angka $47.00 per barel, terendah sejak 29 November 2016. Saat berita ini dirilis, keduanya masih melandai dengan WTI pada $44.67 dan Brent pada $46.97.

Menurut analis yang diwawancarai Reuters, kedua harga minyak acuan terseret jatuh akibat ambruknya US Gasoline Futures (RBc1), setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan peningkatan stok gasoline di Amerika Serikat sebanyak 2.1 juta barel. Dengan penambahan tersebut, total stok gasoline di tangki-tangki penyimpanan AS mencapai 242.4 juta barel, atau 9% lebih tinggi dari rerata lima tahunan. Biang perkaranya, permintaan BBM rata-rata turun 1.2% dalam sebulan terakhir, bila dibandingkan dengan setahun yang lalu.

Laporan mengenai status stok gasoline itu sangat mengejutkan, hingga pasar cenderung mengabaikan penurunan stok minyak mentah AS sebanyak 1.7 juta barel yang juga disampaikan dalam laporan EIA. “Kelemahan berkelanjutan dalam permintaan gasolin telah menjadi fokus diantara pelaku pasar, karena ini bisa berujung pada peningkatan persediaan minyak mentah AS hingga lebih besar lagi,” jelas Abhishek Kumar, Analis Energi Senior di Interfax Energy’s Global Gas Analytics, London.

Di sisi lain, meski OPEC dan negara-negara produsen minyak lainnya telah menerapkan pembatasan kuota kembali, tetapi surplus global belum terhenti. Laporan OPEC yang baru dirilis menunjukkan bahwa outputnya justru meningkat sebanyak 336,000 barel per hari (bph) ke angka total 32.14 juta bph pada bulan Mei. Nigeria dan Libya memberikan kontribusi terbesar pada peningkatan tersebut, karena kedua negara anggota OPEC tersebut mendapat dispensasi dari aturan kuota. “Kita perlu melihat tanda-tanda bahwa pemangkasan (output) OPEC berdampak pada suplai minyak dunia dan jelas bahwa sekarang tidak, atau belum ada,” kata Tamar Essner, Pimpinan Analis Energi di Nasdaq.

Informasi
Sementara itu, laporan terkini dari lembaga International Energy Agency (IEA) menyebutkan, produsen-produsen minyak di luar OPEC masih terus semangat menggenjot produksi. Organisasi yang berpusat di Paris itu memperkirakan suplai minyak akan naik 1.5 juta bph di tahun 2018, didorong oleh laju produksi negara-negara non-OPEC seperti Brazil, Kanada, dan Amerika Serikat. Dengan peningkatan tersebut, akan ada surplus 1.4 juta bph dibanding pertumbuhan demand yang diproyeksikan.
(Visited 12 times, 1 visits today)