Pasca Rilis IEA, Harga Minyak Jatuh Bangun Di Kisaran Terbatas

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Secara umum, permintaan (demand) dan pasokan (supply) minyak mentah global akan seimbang tahun depan; demikian diungkapkan dalam laporan bulanan International Energy Agency (IEA). Kenaikan konsumsi diharapkan dapat menyusutkan persediaan bahan bakar tak terpakai yang selama nyaris tiga tahun terakhir ini menumpuk dan mengakibatkan harga minyak terpuruk. Namun, hal itu bergantung pada syarat-syarat kondisi tertentu.

Laporan bulanan yang dirilis lembaga afiliasi OECD berbasis di Paris itu memproyeksikan pertumbuhan permintaan global atas minyak mentah akan naik sebanyak 1.6 juta barel per hari (bph) pada tahun 2017, kemudian menurun ke 1.4 juta bph pada tahun 2018. "Memantau 2018, kami menilai tiga dari empat kuartal kurang lebih akan seimbang --dengan menggunakan asumsi produksi OPEC yang tak berubah dan berdasarkan kondisi cuaca normal," papar IEA. Lebih lanjut, "Menengok 2018 secara keseluruhan, permintaan minyak dan produksi Non-OPEC akan tumbuh dengan kurang lebih volume yang sama, dan outlook terkini inilah yang bisa berperan sebagai plafon atas aspirasi kenaikan harga minyak."

Pada bulan Agustus, persediaan minyak komersil di negara-negara industri telah menurun sebanyak 14.2 juta barel ke 3.015 milyar barel, sehingga menyisakan surplus sebesar 170 juta barel. Angka surplus tersebut, menurut IEA, berada di bawah rerata lima tahun.

Namun demikian, IEA menyatakan bahwa kenaikan persediaan sebanyak 800,000 bph bisa terjadi pada kuartal pertama tahun depan. Karenanya, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara-negara produsen minyak lainnya harus sepenuhnya mentaati kuota berdasar kesepakatan pemangkasan output yang telah ditentukan. Apalagi, proyeksi IEA menampilkan kemungkinan kenaikan output dari negara-negara non-OPEC sebanyak 700,000 bph di tahun 2017, dan 1.5 juta bph di tahun 2018, dengan Amerika Serikat menjadi penggerak utama.

Prediksi IEA mengenai penurunan permintaan pada tahun depan, mendorong harga minyak melandai tadi malam, walaupun data inventori minyak mentah AS yang dirilis US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan dalam jumlah lebih besar dibanding ekspektasi. Tercatat stok minyak mentah AS sepekan lalu -2.747 juta barel (ekspektasi -1.991 juta barel, data periode sebelumnya -6.023 juta barel).

Harga minyak anjlok hingga satu persen tadi malam, meski telah merangkak naik lagi pada awal sesi Asia hari Jumat ini (13/Oktober). Saat berita ditulis, Brent diperdagangkan naik 0.5% ke $56.51 per barel, sedangkan WTI menanjak 0.59% ke $50.90 per barel.
(Visited 16 times, 1 visits today)