Perbedaan Yuan Dan Renminbi

In Berita Fundamental Forex, Panduan Forex Pemula by Reza Pahlevi

Yuan dan Renminbi mulai sering muncul dalam pemberitaan akhir-akhir ini terkait mata uang China. Bank Sentral China telah mendevaluasi mata uangnya pada bulan Agustus 2015. Dampaknya, pasar-pasar saham Asia dan Eropa pun bertumbangan. Kepanikan seketika merebak di pasar karena para investor khawatir langkah devaluasi China tersebut akan mengilhami negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama.

Saat membaca berita ataupun analisis tentang masalah China tersebut, kita mungkin akan menemukan dua istilah—Renminbi dan Yuan—digunakan dalam jabaran tentang mata uang China. Lantas, apa sih sebenarnya perbedaan Yuan dan Renminbi? Secara esensial, tak ada perbedaan berarti antara dua istilah tersebut.

Renminbi adalah mata uang resmi Republik Rakyat China (RRC) yang diperkenalkan pada tahun 1949, dimana saat itu, kerap juga diterjemahkan sebagai “uang RRC” atau “uang rakyat”. Simbol internasionalnya adalah CNY (atau CNH di Hong Kong; tetapi disingkat dengan RMB dengan simbol ¥).

Yuan adalah nama unit atau satuan mata uang Renminbi. Secara umum, kita bisa mengatakan “Barang ini harganya 10 yuan” tetapi, akan keliru jika kita mengatakannya dengan “Barang ini harganya 10 renminbi”. Atau dengan kata lain, “yuan” berlaku sebagai penyebutan satuannya, sedangkan “renminbi” adalah nama mata uangnya. Analogi Yuan—Renminbi ini sama juga dengan Poundsterling, nama resmi mata uang Inggris. Pound (£) adalah nama satuannya. Kita bisa mengatakan: “Barang ini harganya 10 Pound.”, namun akan salah jika kita mengatakannya dengan: “Barang ini harganya 10 sterling.”

Perbedaan Yuan dan RMB inilah yang tidak kita dapatkan pada penggunaan istilah mata uang Rupiah ataupun Dolar, karena penyebutan Rupiah dan Dolar akan sama baik sebagai satuan maupun sebagai mata uang. Perlu diketahui, istilah China untuk Dolar sendiri adalah “mei yuan” atau yuan Amerika. Di samping itu, kata yen dan won, yakni mata uang Jepang dan Korea, juga mengadaptasi kata yuan di China. Bangsa China menyebut yen mata uang Jepang dengan “ri yuan”.

Kebijakan China pada mata uang mereka memang sangat ketat, terutama pada hubungannya dengan negara-negara lain. Paul Krugman, pemenang hadiah nobel dalam bidang ekonomi melalui tulisannya di New York Times beberapa tahun lalu mencatat bahwa tampaknya, tak ada keberatan jika kita berbicara tentang nilai Pound, tapi coba jika kita berbicara mengenai nilai Yuan, tak jarang kita akan mendapat celaan. Dengan nada bercanda Krugman mengatakan, “Kadang saya berpikir bahwa semua isu tentang renminbi/yuan adalah sebuah alur mengerikan yang sengaja dirancang secara spesifik oleh orang-orang China agar orang-orang lain tidak ‘usil’ membicarakan kebijakan mata uang mereka,”

Dari segi ukuran dan dinamika, perekonomian RRC memang lebih unggul dibandingkan dengan perekonomian negara-negara berkembang. China sendiri telah menjadi negara perekonomian terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat dan memiliki kontribusi terbanyak dalam pertumbuhan global. Jadi, jika pertumbuhan China terus menunjukkan angka yang memuaskan, bukan tak mungkin China akan menggantikan kedudukan AS di peringkat pertama. Hal ini pula yang terus memicu spekulasi bahwa renminbi akan segera menjadi salah satu mata uang internasional.

Buku yang diterbitkan oleh “duet” Brookings Institution Press dan the Asian Development Bank berjudul “Renminbi Internationalization”, mengupas cukup dalam isu mengenai internasionalisasi Renminbi ini. Melalui sebuah penelitian yang mengkaji isu-isu finansial dan moneter yang berkorelasi dengan internasionalisasi mata uang, buku tersebut menekankan sejumlah dasar dimana komunitas internasional hendaknya menyikapi RRC sebagai sumber likuiditas global. Akan tetapi, menjadikan renminbi sebagai mata uang global akan membutuhkan hal-hal khusus yang harus dipenuhi seperti penyeimbangan ekonomi China itu sendiri, pengembangan pasar finansial dengan membukanya secara luas ke seluruh penjuru dunia, serta lebih mem-fleksibelkan lagi nilai tukarnya.

Para editor di buku Renminbi Internationalization tersebut, yakni Barry Eichengreen dan Masahiro Kawai, mencuplik:
“Dunia menyambut kebangkitan RRC sebagai sumber likuiditas global… Telah lebih dari setengah abad Dolar AS berperan menjadi sumber likuiditas, dengan obligasi-obligasi pemerintah AS yang menjadi satu-satunya pasar finansial terbesar dan paling likuid di dunia… Sudah saatnya sumber likuiditas internasional lainnya dikembangkan sebagai suplemen bagi AS dan Dolarnya. RRC dengan RMB-nya lah yang jelas bisa menjadi kandidatnya. Oleh sebab itu, globalisasi di masa depan bisa mendukung upaya RRC untuk menginternasionalisasi RMB.”

Jika sudah demikan, maka internasionalisasi renminbi akan memungkinan RRC untuk menjadi penyuplai alternatif aset-aset aman ke negara-negara di dunia dimana perusahaan-perusahaan, rumah tangga, bank-bank sentral bisa memarkirkan simpanan mereka. Selain itu, mereka juga bisa menjadi penyumbang likuiditas saat dibutuhkan.

(Visited 52 times, 1 visits today)