Percaya Pada Indikator?

In Panduan Analisa Teknikal by Kia Pratiwi

Do you believe in God? Do you believe in life after death? Itu pertanyaan standar untuk mengetahui tingkat keyakinan sseseorang terhadap hal-hal di luar nalar. Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sederhana. Ada satu pertanyaan sejenis itu yang bisa ditanyakan kepada trader: “Do you believe in indicator?” Lebay deh yaa? Iya sih! Tapi pertanyaan ini seringkali saya ajukan kepada temen trader untuk mengetahui, apa dasar dia dalam mengambil keputusan dalam trading. Apakah dia sudah memiliki trading system yang matang, ataukah trading hanya sekedar berdasarkan feeling, atau barangkali dia trading berdasarkan untung-untungan doang?

Mulailah Mengenal Indicator

Di saat-saat awal saya belajar trading, saya mati-matian belajar aneka macam indikator. Kalau di chat room ada yang ngomongin tentang salah satu indikator yang “kebetulan” saya belum paham, saya akan segera tancap gas untuk cepet mencari tau tentang indikator tersebut. Kalau perlu trading dihentikan dulu, diganti dengan browsing sana-sini untuk cari tahu tentang indikator tersebut. Pendeknya, gak tau indikator yang dibicarakan orang merupakan satu hal yang memalukan menurut saya (saat itu). Lama kelamaan, kok saya cape sendiri ya? Soalnya ternyata, setelah lumayan paham beberapa indikatorpun, akhirnya yang dipakai saat trading sebenernya juga indikator itu-itu ajah kok. Malahan, terus terang, sekarang saya malahan cenderung mengandalkan candlestick plus chart pattern saat trading. Paling-paling dibantu dengan horizontal line. Jadi, apa pengetahuan dan kepercayaan terhadap indikator itu menjadi sia-sia? Kalau dibilang sia-sia sih tentu saja nggak-lah. Proses belajar dan memahami beberapa indikator menurut saya adalah salah satu tahapan dalam belajar menjadi trader yang baik.

Terus terang saya suka ragu kalau kalau ada trader yang mengatakan bahwa dia trading berdasarkan feeling. Saya biasanya akan melanjutkan dengan pertanyaan: “sudah berapa lama belajar trading?” Kalau dia jawab “lebih dari 5 tahun”, itu saya anggap end of discussion. Mungkin dia memang sudah sampai pada satu tahap dimana dia sudah bisa membaca dan mengikuti gerak market, bahkan tanpa indikator sekalipun. Tapi kalau dia jawab “kurang dari setahun…” Wah, gawat tuh! Lah, kok kesannya trading itu cuma berdasarkan untung-untungan yaa…? Biasanya sih trader yang sejenis ini kalau saya liat gak akan bertahan lama. Begitu merasakan sekali atau dua kali MC, dia pasti akan kapok dan berhenti trading (plus rasa dendam terhadap segala yang berbau forex) Pemahaman tentang indikator menurut hemat saya masih sangat perlu bagi seorang trader, meskipun nantinya dalam prakteknya dia hanya mengandalkan candlestick saat trading. Lagian, candlestick juga kan salah satu indikator?

Buat temen-temen yang saat ini dalam proses belajar menjadi trader, kalau saya boleh unjuk saran, cobalah untuk belajar dan memahami setidaknya beberapa indikator. Pahami dan kenali, dan yang utama, coba amati dan teliti bagaimana hubungan indikator tersebut dengan gerakan chart. Temen trader ada yang bilang, dengan modal mengamati, meneliti dan hafal akan sifat-sifat suatu indikator, kita akan bisa mengetahui ke mana gerakan chart selanjutnya, bahkan nantinya tanpa bantuan indikator sekalipun.

Kesimpulan
Jadi, kalau saya ditanya: percaya gak sama indikator? Jawaban saya: tentu saja percaya. Hanya saja, masalah keputusan dalam trading, itu kembali ke judgement kita sendiri. Itu juga sebabnya saya lebih suka trading secara manual dibanding menggunakan EA. Bukankah keasyikan trading itu justru di prosesnya? Eh, tapi ngomong-ngomong, beberapa temen trader suka protes kalau saya bilang letak keasyikan trading itu ada di prosesnya. Mereka bilang trading itu asyiknya ya di WD-nya.
(Visited 41 times, 1 visits today)