Personal Income dan Spending

In Panduan Forex Pemula by Reza Pahlevi

Ketika kita menerima penghasilan, pastinya akan terdapat banyak pilihan dalam benak masing-masing individu sebelum menggunakan dana tersebut. Dan setiap orang memiliki keputusan yang berbeda-beda dalam menentukan kebutuhan pokoknya, sedangkan keinginan lain maupun simpanan masa depan sudah harus ada perhitungannya sendiri.

Pada Artikel kali ini, saya akan membahas mengenai laporan Personal Income & Spending negara Amerika Serikat (AS). Dalam dunia bisnis dan ekonomi, daya beli konsumen adalah kunci paling utama. Pengeluaran konsumen yang lancar akan berimbas pada kenaikan penjualan barang impor, output manufaktur, bisnis dan investasi hingga pertumbuhan lapangan kerja. Di sisi lain, jika pendapatan warga menurun, maka akan menimbulkan efek domino, mulai dari berkurangnya kepercayaan konsumen, penurunan retail sales hingga ancaman kredit macet.

Pada uraian dibawah ini adalah penjelasan mengenai data tersebut, yang akan terbagi dalam 3 kategori, seperti personal income, expenditures dan saving. Untuk mempersingkat waktu, berikut 3 kategori yang saya sebutkan tadi. Personal IncomePerhitungan besar atau kecilnya pendapatan netto diukur dari berapa banyak uang yang dihasilkan setelah dipotong pajak dan pengeluaran tetap lainnya. Istilah ini dikenal dengan nama disposable personal income (DPI). Pendapatannya itu sendiri dapat berasal dari berbagai sumber, seperti uraian berikut :

– Upah / Gaji : Sebuah penghasilan yang dibayarkan oleh pihak perusahaan kepada karyawannya.
– Penghasilan dari kepemilikan (8%): pendapatan yang diperoleh dari jasa atas pemakaian hak milik pribadi oleh orang lain. Pendapatan ini biasanya dikenakan bukan mengacu pada tarif sewa normal.
– Pendapatan atas sewa (1.4%): Penghasilan yang diperoleh dari jasa menyewakan atau leasing real estat. Pendapatan ini dapat dihitung jika bukan dianggap sebagai penghasilan utama.
– Pendapatan dari dividen sebuah saham (4.4%) : Penghasilan dari kepemilikan sebuah saham pada satu perusahaan.
– Pendapatan Bunga Bank (11%) : Pendapatan atas penempatan sebuah dana pada bank dalam bentuk tabungan, sertifikat deposito, sekuritas maupun obligasi.
– Transfer Payment (13%) : Penghasilan atas pembayaran oleh pemerintah, baik berupa jaminan sosial, subsidi tunai, klaim asuransi pengangguran dan lain-lain.
– Pendapatan lain-lain (6.2%) : Pekerjaan sampingan maupun akumulasi dari pembayaran upah berbentuk asuransi, dana pensiun dan sebagainya.

Note :
Semua klasifikasi dalam menghasilkan sebuah pendapatan diatas tidak menyertakan cash inflow dari hasil penjualan suatu properti, saham, atau surat hutang.

Personal Spending Sebuah pengukuran PCE tidak hanya sebatas untuk mengetahui seberapa besar jumlah agregat belanja seorang konsumen. Namun lebih jauh lagi, PCE merupakan komponen dari GDP dan menjadi tolok ukur utama dari tumbuh kembangnya siklus bisnis sebuah negara. Sebanyak 95% dari penghasilan rumah tangga dibelanjakan pada 3 kategori produk: durable goods, non-durable goods dan services. Durable goods atau barang-barang tahan lama memiliki harga relatif mahal dan awet lebih dari 3 tahun, seperti mobil, refrigerator, televisi dan sebagainya. Oleh karena alasan tersebut, produk durable memakan 12%-14% dari penghasilan. Sedangkan pada Nondurable goods hanya memiliki usia pakai yang kurang dari 3 tahun, seperti makanan, pakaian dan lain sebagainya. Sedangkan Persentase angka belanja berada pada sekitar 30% dari total penghasilan. Pada segmen jasa memiliki tingkat pertumbuhan dan permintaan lebih tinggi dibandingkan durable goods dan nondurable goods. Pada masa the Groovy 1960’s, pengeluaran untuk kategori services di negara maju mencapai 40% dari total penghasilan. Jasa yang lazim diminati pada tahun 60-an adalah salon kecantikan, jasa konsultan, hiburan perfilman, travel agent dan sebagainya.

Personal Saving Pengalokasian tabungan seorang konsumen biasanya berbentuk sertifikat deposito bank, tabungan regular maupun investasi di pasar uang, saham atau obligasi. Rata-rata jumlah tabungan pribadi (personal saving rate) cenderung tidak konsisten dan stabil. Sebagai contoh, jika Anda sekarang menabung Rp.5 dari setiap pendapatan Rp.100, maka persentase tabungan adalah sebesar 5%. Jika kondisi pendapatan personal meningkat, individu cenderung menaikkan standar hidup jadi konsumtif. Tentunya pilihan untuk menabung menjadi hal yang terlupakan, sehingga alokasi dana simpanan kian berkurang Penyusutan bisa saja terjadi pada setiap simpanan yang berbentuk instrumen investasi. Pada masa resesi tahun 2001 lalu, banyak warga AS merugi akibat nilai portofolionya turun. Pemerintah langsung membuat program penyelamatan dengan melepas paket investasi jangka panjang. Pasar uang merespon positif kebijakan tersebut sehingga safe haven kembali jadi primadona.

(Visited 32 times, 1 visits today)