Pertumbuhan Investasi Indonesia Diprediksi 6,2 % Tahun Depan

In Berita Terhangat dan Terkini by Della Fitriani

pertumbuhan-investasi

Meningkatnya daya saing Indonesia telah mendorong bertambahnya aliran perdagangan, lapangan kerja, investasi bisnis & tingkat belanja konsumen, menurut laporan ICAEW Economic Insight: South East Asia. Wacana penambahan investasi umum pula menunjang meningkatnya pertumbuhan GDP thn depan, dari 5 di 2016 menjadi 5,2 di 2017. Namun, tingkat pertumbuhan antar negara ASEAN berbeda-beda yang disebabkan oleh banyaknya peraturan utk saling berdagang.

Para perusahaan Iindonesia harus bisa mempertahankan arus modal yang kokoh utk mengamankan peluang bisnis & pemerintah harus memastikan persediaan kredit yang lancer. Dalam bbrp tahun ini, kinerja ekonomic ASEAN terlihat melaju lebih pesat dibandingkan dengan pasar utama berkembang lainnya.

Tingkat rata-rata product domestic bruto (PDB) tahunan ASEAN dalam jangka waktu 2011-2015 bertahan di 5 & melampaui Afrika (3,4), Timur Tengah (3,1) dan Amerika Latin (2,1).

Meningkatnya Investasi Indonesia

ICAEW Economic Insight: South East Asia memprediksi pertumbuhan investasi Indonesia akan meningkat sebesar 6,2 persen di 2017. Wacana penambahan investasi umum itu seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi meningkat hingga 5,2 persen.

“Meningkatnya daya saing Indonesia telah mendorong bertambahnya aliran perdagangan, lapangan kerja, investasi bisnis, dan tingkat belanja konsumen,” ujar Regional Director ICAEW South East Asia, Mark Billington, dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 6 September 2016.

Mark mengatakan perusahaan-perusahaan Indonesia harus mampu mempertahankan arus modal yang kokoh untuk mengamankan peluang bisnis dan pemerintah harus memastikan persediaan kredit lancar sepanjang tahun depan agar roda perekonomian bergerak.

Faktor Pendukung Kestabilan Ekonomi ASEAN

Dalam beberapa tahun ini, menurut Billington, kinerja ekonomi ASEAN melaju lebih pesat dibanding pasar utama berkembang lainnya. Tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata negara ASEAN dalam rentang 2011-2015 bertahan di level 5 persen, melampaui Afrika (3,4 persen), Timur Tengah (3,1 persen), dan Amerika Latin (2,1 per-
sen).

Faktor pendukung kestabilan itu, Billington melanjutkan, adalah rendahnya ketergantungan pada komoditas, peningkatan daya saing, serta stabilnya rasio utang terhadap produk domestik bruto di batas bawah. “Prospek ekonomi ASEAN terlihat tetap positif,” katanya. Kondisi tersebut pun turut membuka prospek ekspor dan investasi umum di sejumlah negara ASEAN.

Namun, menurut Billington, hubungan perdagangan serta ikatan finansial yang erat dengan Cina tetap menjadi penggerak penting ekonomi ASEAN. “Sehingga, kalau perekonomian Cina turun drastis, negara ASEAN akan terkena dampak,” dia mengungkapkan.

Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat, realisasi investasi pada triwulan II 2016 meningkat 12,3 persen dibanding pada triwulanll 2015. Pada April-Juni ini, realisasi investasi mencapai Rp 151,6 triliun—lebih tinggi dibanding realisasi pada April-Juni 2015 sebesar Rp 135,1 triliun.

Dengan capaian tersebut, realisasi investasi pada semester I ini telah mencapai Rp 298,1 triliun atau naik 14,8 persen dibanding pada semester I 2015. Catatan ini menunjukkan realisasi investasi telah mencapai 50,1 persen dari target realisasi investasi tahun ini sebesar Rp 594,8 triliun.

(Visited 94 times, 1 visits today)