Reli Harga Minyak Terancam Konflik Qatar Dan Surplus AS

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Harga minyak masih bergerak naik pada sesi perdagangan Senin (3/7), didorong oleh penurunan jumlah sumur pengeboran minyak (oil drilling rigs) dalam laporan Baker Hughes yang dirilis akhir pekan lalu. Namun demikian, sejumlah faktor kunci dikhawatirkan dapat menjegal reli ini dan merantai harga minyak tetap di bawah ambang $50 per barel.

Saat berita dirilis, Brent berada pada $48.88 per barel; setelah sukses naik 2.4% ke harga $48.77 per barel di penutupan hari Jumat. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melesat 2.5% minggu lalu ke harga penutupan $46.04, dan pagi ini terpantau berada di kisaran $46.33 per barel.

Investor minyak mulai bergairah berkat kemunculan sinyal perlambatan produksi minyak Amerika Serikat. Perusahaan jasa energi Baker Hughes pada hari Sabtu dini hari melaporkan bahwa jumlah oil drilling rigs menurun sebanyak 2 ke total 756 buah pekan lalu. Ini merupakan penurunan pertama setelah kenaikan non-stop selama 23 pekan sebelumnya. Selain itu, data pemerintah AS menunjukkan total produksi domestik menurun 100,000 barel per hari (bph) ke angka 9.25 juta barel dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 23 Juni. Meski tak signifikan, tetapi penurunan ini adalah yang terbesar sejak Juli 2016.

Seminggu ke depan, pasar akan kembali memantau laporan persediaan minyak pekanan AS dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA), masing-masing pada hari Rabu dan Kamis; serta laporan Baker Hughes pada Sabtu dini hari. Dalam pada itu, akan diamati juga perkembangan konflik diplomatik yang melanda Qatar serta pertumbuhan permintaan BBM di Amerika Serikat.

Per hari Senin ini, Qatar masih memiliki waktu 48 jam untuk merespon daftar 13 tuntutan yang telah disampaikan Arab Saudi dan sekutunya pasca boikot awal Juni lalu. Tuntutan itu semestinya jatuh tempo pada Minggu pagi, tetapi diperpanjang setelah Kuwait melakukan mediasi.

Belum ada informasi mengenai bagaimana respon resmi pemerintah Qatar atas 13 tuntutan tersebut. Namun menurut media asal Qatar, Aljazeera –yang diminta Saudi agar ditutup—, Menteri Luar Negeri Qatar telah menyatakan bahwa daftar tersebut “dibuat untuk ditolak”, sembari menawarkan dialog untuk mencapai kesepakatan.

“Semua orang tahu bahwa permintaan-permintaan ini dimaksudkan untuk melanggar kedaulatan negeri Qatar, membungkam kebebasan berbicara dan menerapkan mekanisme pemantauan dan masa percobaan atas Qatar,” kata Menlu Qatar, Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, di Roma. Lanjutnya, “Kami meyakini bahwa dunia ini tidak diatur oleh ultimatum; kami meyakini bahwa dunia ini diatur oleh hukum internasional, diatur oleh tata tertib yang tak mengizinkan negara-negara besar untuk mem-bully negara-negara kecil.”

Di sisi lain, Arab Saudi dan sekutunya telah menyatakan bahwa ke-13 tuntutan harus dipenuhi oleh Qatar. Jika tidak, maka boleh jadi akan ada sanksi baru bagi Qatar. Padahal, pasar khawatir kalau-kalau sejumlah anggota OPEC –termasuk Qatar– akan menggunakan konflik ini sebagai alasan untuk mangkir dari kuota yang telah ditetapkan dalam perpanjangan kesepakatan pemangkasan output minyak.

Sementara itu, jumlah persediaan minyak mentah maupun gasoline di pusat-pusat inventori AS bertahan di atas rata-rata musiman; salah satu tanda masih melimpahnya suplai minyak global. Para investor minyak AS berharap puncak musim panas di bulan Juli ini dan terbukanya peluang ekspor ke Asia, dapat mendorong kenaikan permintaan agar inventori berkurang. Akan tetapi, analis mewanti-wanti bahwa bila inventori tidak menurun, maka pupuslah harapan akan harga minyak lebih tinggi akhir tahun ini.

“Biasanya, Juni/Juli mewakili puncak musiman dalam permintaan minyak mentah dari pengilangan,” kata David Thompson, wakil presiden eksekutif di Powerhouse, sebuah broker khusus komoditas energi yang berpusat di Washington. “Akan makin sulit untuk menggunakan semua (persediaan) minyak mentah seiring menurunnya aktivitas pengilangan setelah berlalunya puncak musim panas.”

Note:
Sebagaimana dikutip Reuters, Credit Suisse sependapat, “Kami mengharapkan mendapatkan petunjuk nyata dalam 4-5 pekan (ke depan) mengenai sentimen pasar minyak di paruh kedua tahun 2017… Jika persediaan (minyak mentah AS) tidak turun banyak bulan depan (Juli -red), setidaknya kami bakal khawatir sentimen bearish akan kembali mengemuka.”
(Visited 15 times, 1 visits today)