Salah Prediksi Harga Minyak, Hedge Fund Top Gulung Tikar

In Berita Fundamental Ekonomi by Reza Pahlevi

Pekan lalu, Bloomberg melaporkan bahwa setidaknya sepuluh lembaga pengelola dana investasi di bidang sumber daya alam terpaksa gulung tikar akibat lesunya harga minyak. Tak hanya Hedge Fund-Hedge Fund top yang tamat, Goldman Sachs pun melaporkan hasil trading komoditas terburuk sepanjang masa di kuartal II/2017.

Diantara Hedge Fund yang terpaksa tutup adalah Clive Capital LLP, Centaurus Energy LP, dan Astenbeck Master Commodities Fund II Ltd. Pemilik Astenbeck Master Commodities Fund II Ltd yang bernama Andrew “Andy” Hall, merupakan manajer Hedge Fund yang dahulu dijuluki “Tuhan” karena kelihaiannya. Pada masa krisis finansial global, Andy Hall berhasil mengantongi $100 juta saat bertrading untuk Citigroup Inc. Ia juga pernah mencecap posisi di perusahaan energi raksasa BP dan sebagai Chief Executive Officer di Phibro Energy Inc.

“Andy Hall adalah salah satu ‘bangsawan’ dalam oil trading,” ujar Jorge Montepeque, Presiden Senior di perusahaan energi kawakan asal Italia, Eni SpA. Namun, dalam paruh pertama tahun 2017 lalu, Astenbeck mengalami loss hingga nyaris 30% dari dana sebesar $1.4 milyar yang dikelolanya. Apa pasal? Menurut sejumlah sumber, Andy Hall kemungkinan merupakan korban dari sebuah kutukan yang kerap menimpa Hedge Fund: hanya berkonsentrasi pada pasar yang kecil dan utang leverage yang tinggi.

Salah satu Hedge Fund top di bidang energi ini mempertaruhkan dananya pada kemungkinan harga minyak akan naik setelah OPEC dan sejumlah negara produsen minyak Non-OPEC mengumumkan kesepakatan pembatasan output mulai Januari 2017. Namun, realita berkata berbeda. Surplus minyak global terus berlanjut gegara tingginya laju produksi minyak shale Amerika Serikat, serta pulihnya output Libya dan Nigeria seusai konflik bersenjata. Saat berita dirilis hari ini (8/Agustus), harga minyak Brent tertahan di $52.15 per barel dan WTI di kisaran $49.23 per barel; masih lebih rendah dibanding posisi kedua harga acuan pada awal tahun 2017. “Andy Hall tak sendiri,” kata Philippe Ferreira, Pakar Strategi di Lyxor Asset Management, sebuah lembaga investasi yang berpusat di Paris. Lanjutnya, “Bahkan para pakar terbaik di bidang ini tak bisa mengantisipasi perubahan harga mendatang dengan tepat. Kebanyakan spesialis bidang komoditas telah menderita loss dua digit (persen) dalam tahun ini akibat posisi trading bullish yang berakhir buruk.”

Note :
Sedangkan Anas Alhajji, seorang analis independen, menyatakan bahwa penutupan Astenbeck serta beberapa Hedge Fund top lainnya menunjukkan bagaimana “alam forecasting di pasar minyak berubah setelah revolusi shale.”

Memasuki paruh kedua tahun 2017 ini, sejumlah bank investasi multinasional nampaknya sudah mulai pasrah menerima tren harga minyak murah berkepanjangan. Survey oleh Wall Street Journal atas 15 bank investasi menunjukkan mereka memangkas ekspektasi harga minyak untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juli. Rata-rata bank investasi memperkirakan Brent akan berada di harga rata-rata $53 per barel sepanjang tahun ini, turun $2 dari hasil survey bulan Juni. Forecast harga minyak Brent untuk tahun 2018 pun menyusut $2 ke $55 per barel. Sementara itu, produsen minyak anggota OPEC dan Non-OPEC dijadwalkan berapat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, hingga Selasa ini guna mendiskusikan upaya-upaya untuk meningkatkan kepatuhan pada kesepakatan pemangkasan output yang sejauh ini masih mandul.

(Visited 68 times, 1 visits today)