SocialMeter Bantu UMKM Tingkatkan Popularitas di Media Sosial dengan Teknologi GDILab

In Berita Terhangat dan Terkini by Kia Pratiwi

Di bulan Desember 2013, Billy Boen dan Jefri Dinomo memperkenalkan sebuah perusahaan analisis digital bernama GDILab kepada publik. Dari pengalamannya menjalankan GDILab selama lebih dari dua tahun, Billy melihat kurangnya kesadaran perusahaan-perusahaan Indonesia terhadap keberadaan media sosial untuk meningkatkan brand awareness. Terutama, perusahaan yang termasuk ke dalam kelompok usaha kecil, mikro, dan menengah atau UMKM. Menurutnya, sejauh ini pemahaman untuk memaksimalkan akun-akun media sosial untuk meningkatkan eksposur merek baru dimiliki oleh perusahaan besar atau yang mampu membayar agensi digital.

Perusahaan kecil, apalagi mikro, masih banyak yang tidak tahu harus bagaimana memaksimalkan akun-akun media sosial mereka,” ujar Billy Boen Setelah mengamati kondisi pasar, Billy kemudian menggagas SocialMeter  pada tahun 2017. Tujuannya, agar dapar membantu UMKM mengoptimalkan fungsi media sosial untuk pemasaran.

Maksimalkan teknologi L.E.A.P


SocialMeter adalah sebuah layanan penyedia laporan aktivitas dan performa media sosial untuk UMKM. Socialmeter juga berfungsi untuk memberikan rekomendasi strategi promosi media sosial. Dengan begitu, UMKM bisa mengetahui bagaimana caranya untuk meningkatkan popularitas merek di media sosial. Layanan ini juga berfungsi untuk saling mempertemukan perusahaan dengan influencer dan sebaliknya. Billy menjelaskan, pengembangan layanan ini dilakukan sepenuhnya menggunakan sumber daya yang dimiliki oleh GDILab. SocialMeter juga menggunakan teknologi mesin pintar L.E.A.P yang dikembangkan oleh GDILab.

L.E.A.P merupakan singkatan dari Listen, Engage, Analyze, Predict. Mesin ini mampu menangkap aktivitas media sosial, mengolah data tersebut, kemudian memberikan rekomendasi strategi untuk perusahaan. SocialMeter adalah hasil penyederhanaan dari Digital Marketing Report yang GDILab tawarkan untuk perusahaan-perusahaan besar, lalu disesuaikan dengan kebutuhan usaha kecil atau mikro dan para influencer,” jelas Billy.

Kolaborasi dengan agensi digital dan freelancer


Dalam memperkenalkan layanan ini, tantangan terbesar yang dihadapi oleh Billy dan timnya adalah dalam mengedukasi pemiliki UMKM mengenai kemampuan media sosial untuk pemasaran. Proses edukasi masyarakat bahwa kini UMKM dan para influencer juga memiliki kesempatan yang sama dengan perusahaan besar dalam memaksimalkan akun-akun media sosial mereka adalah tantangan terbesar kami saat ini,” jelas Billy. Untuk memperkenalkan SocialMeter, Billy menerapkan cara yang cukup unik. Ia menggandeng agensi digital dan pekerja lepas di bidang media sosial. Mereka nantinya dapat menjual SocialMeter pada klien mereka dengan metode reseller.

Para agensi digital atau freelancer, siapapun yang membantu menjualkan SocialMeter akan mendapatkan insentif sebesar dua puluh persen dari nilai transaksi yang terjadi,” ujar Billy. Billy memang menegaskan bahwa mereka tidak berkompetisi dengan agensi digital maupun pekerja lepas di bidang media sosial, yang juga memiliki kemampuan untuk memberikan analisis digital untuk perusahaan. Justru, ia ingi berkolaborasi dengan pihak-pihak tersebut. Kami tidak melihat adanya kompetitor untuk SocialMeter saat ini. Agensi digital maupun social media freelancer pun bukan kompetitor kami. Malah kami mengajak mereka untuk menggunakan SocialMeter dalam mengedukasi klien mereka,” jelas Billy. Sejak pertama kali diluncurkan, Billy Mengklaim saat ini mereka telah memiliki ratusan pengguna baik dari segi influencer maupun UMKM.

(Visited 44 times, 1 visits today)